Posted by Mr.Karimuddin.
Posted by Mr.Karimuddin.
Asuransi vs Investasi
Ada pembaca kita yang bertanya soal asuransi dan investasi. Kedua hal ini sebenarnya buat saya adalah dua spesies yang berbeda. Investasi sebagai kita tahu adalah cara mem-preserve keuangan kita untuk lebih tinggi dari inflasi dan mencapai suatu tujuan finansial tertentu, misalnya dana pensiun, dana beli rumah, dana liburan, dana pendidikan, dll. Asuransi di sisi lain adalah suatu teknik “sedia payung sebelum hujan” untuk KESEHATAN kita dan (sebagian) kesehatan finansial kita dan keluarga.
Di sini saya coba bahas tentang asuransi. Kenapa kita perlu asuransi? Kita perlu payung jika sewaktu-waktu hujan, payung dapat digunakan untuk melindungi kita. Kalau tidak ada hujan? Gak apa-apa juga punya payung, hari ini tidak hujan bukan berarti besok pasti tidak hujan juga kan? Itu gambaran umumnya. Saya sebenarnya cukup awam dengan detil asuransi, jadi lebih baik dibahas dari pandangan awam juga. Asuransi secara besaran dibagi menjadi dua, asuransi jiwa dan asuransi kesehatan. Karena pasti sudah pada tahu artinya, kita skip langsung ke bagian kapan seharusnya kita apply kedua asuransi tersebut.
Asuransi Jiwa
Asuransi jiwa sebaiknya di-apply jika hidup keluarga bergantung pada kepala keluarga misalnya. Jikalau ayah yang membiayai hidup keluarga tiba-tiba dipanggil olehNya, keluarga tentu juga tiba-tiba tidak memiliki stream income yang biasa dinikmati. Asuransi jiwa ini berguna untuk meng-cover biaya hidup keluarga yang ditinggalkan.
Jadi misalnya biaya pertanggungan/santunan adalah IDR 100 juta, maka jika kepala keluarga passed away, duit 100 juta itu yang digunakan untuk membiayai hidup keluarga, sampai misalnya ibu mencari stream income baru. Kapan tidak perlu memiliki asuransi jiwa? Jika Anda masih single dan tidak ada tanggungan yang secara finansial “kehilangan” (misalnya orang tua) jika tidak ada stream income yang dihasilkan oleh Anda.
Asuransi Kesehatan
Berikutnya adalah asuransi kesehatan. Kebanyakan dari Anda yang menjadi pegawai tentunya sudah memperoleh jaminan asuransi kesehatan. Meskipun demikian harus Anda telaah dalam-dalam hal apa yang di-cover dan yang tidak. Jangan sampai Anda over-confident bahwa semua penyakit bakal di-cover oleh asuransi kesehatan tempat Anda bekerja. Bisa saja ternyata hal-hal tertentu sama sekali tidak tercantum di klausul asuransi kesehatan kantor. Silakan cek dan ricek lagi. Juga pastikan berapakah besaran rawat inap per malamnya yang ditanggung.
Sebagai contoh, ada asuransi kesehatan yang meng-cover biaya rawat inap IDR 400 ribu per malam. Ini kira-kira setaraf kamar kelas dua di RS ternama. Jika Anda ingin mendapatkan perawatan di kelas yang lebih tinggi, Anda bisa menyiasati dengan memiliki asuransi kesehatan dari 3rd party yang bisa menambah kekurangan (jika ada) reimburse biaya perawatan sakit Anda (dan/atau keluarga). Ingat sebagai tambahan, bukan sebagai sarana cari untung dengan me-reimburse ke kantor dan 3rd party sekaligus.
Asuransi Kesehatan Setelah Pensiun?
Nah, yang seharusnya jadi masalah adalah jika pensiun bagaimana? Biasanya kebanyakan kantor hanya meng-cover selama Anda bekerja di perusahaan tersebut. Jika sudah berumur 55 tahun dan pensiun, perusahaan mempersilahkan Anda untuk membiayai urusan kesehatan sendiri, padahal justru kebanyakan penyakit mulai menyerang setelah usia pensiun.
Ligwina Hananto mengkonfirmasi bahwa di Indonesia saat ini belum ada asuransi yang meng-cover mulai masa pensiun ini (di luar sepertinya ada, belum cek sih). Kebanyakan sih harus dimulai dari sekarang, meskipun belum tentu sekarang butuh (ingat dua perlindungan itu terlalu berlebihan jika coverage dari kantor sudah lebih dari cukup). Jadi sekarang cara mempersiapkannya adalah.. dengan membuat investasi dana kesehatan
buatlah perencanaan dana kesehatan di masa pensiun sebagaimana persiapan dana pensiun. Jangan salah, jangan ambil dana pensiun untuk dana kesehatan! Kalau dana pensiun diambil salah satu, gimana pasangan kita mau menghidupi diri kalau begitu?
Unit link?
Bagaimana dengan unit link?? Hampir semua perencana keuangan independen — artinya tidak ada afiliasi dengan produk tertentu — tidak menyarankan produk seperti ini. Mengapa? selain tujuan awalnya berbeda, dua spesies dalam satu produk tentunya tidak memudahkan kita mengatur porsi besaran mana alokasi asuransi dan mana alokasi investasi. Jangan sampai ternyata alokasi investasi Anda malah tersedot untuk asuransi. Saya pribadi tetap menyarankan untuk memisahkan di antara dua produk ini. Silakan pilih investasi dan pilih asuransi, jangan pilih asuransi+investasi. Percayalah akan lebih enak mengaturnya jika dipisah seperti itu
Update: salah satu tulisan Ligwina Hananto menyebutkan sejumlah alasan kenapa unit link itu tidak direkomendasikan. Kesimpulan saya, dua spesies dalam satu produk artinya benefitnya tidak optimal, baik dari sisi asuransi maupun dari sisi investasi.
makasih..makasih banget buat info’a…
lumayan udah ada bayangan lah mo melangkah mengcover .. walaupun masih bingung juga krn ada banyak penawaran sana sini… makasih ya Mrs dan Mr Karimuddin *gak salah nulis nih ya*
[Reply]
Amir, aku pake unit link dari Allianz. Bisa milih porsinya kok buat asuransi atau investasi. Tapi setelah 6 tahun baru bisa 100% ke investasi. Gak besar sih cuma 500 ribu per bulan, sebenernya buat rencana hari tua juga sih…itung2 nabung buat pensiun nanti. Gmn menurutmu? Thx, Nia
[Reply]
Mr. Karimuddin Reply:
July 1st, 2009 at 1:02 pm
Nia – menunggu 100% untuk investasi setelah 6 tahun buat saya cukup buang-buang waktu, karena sebenarnya Nia bisa memulai investasi dan asuransi mulai sekarang jikalau paketnya terpisah. Selain itu, apakah Nia tahu performa produk investasi yang dipaketkan oleh unit link ini? Hal-hal seperti ini yang membuat produk semacam unit link tidak disarankan.
Buat pensiun seharusnya perencanaannya mantap, tidak cuma iseng kan
Jika saya hitung-hitung dengan kalkulator investasi sederhana dengan asumsi rata-rata return 20% per tahun dan berinvestasi selama 30 tahun, uang IDR 500 ribu per bulan diproyeksikan hanya bisa untuk biaya hidup IDR 2 juta (equals dengan masa sekarang) selama 30 tahun berikutnya. Apakah sudah cukup untuk Nia?
[Reply]
Bang Amirk…
q juga punya unit-link selain asuransi biasa en reksadana (yg ini wanna be)…tdnya aku dah bc berulang2 kenapa lebih baik misahin kedua produk itu but…satu hal yg keuntungan unitlink yg tak didapat di produk lain (selain simple bt yg sibuk cos segala sesuatu ditangani oleh pihak yg kompeten). Yaitu asuransi jiwa sekaligus kesehatannya tanpa melalui pemeriksaan rutin tiap tahun.ky aku cm ikutan yg 350rb/bl dg proporsi investasi x%. dg nilai premi tetap selama 5 tahun (krn setelah thun ke-6 semua lari ke invest) bisa mengcover kita sampai usia pensiun 55-60tahun klo konvensional nambah setahun aja umur kita premi meningkat terusss dan terusss apalagi klo dah usia 40 keatas.It aja sih..klo lain2nya setuju investasi mesti kita seriusi tersendiri.
[Reply]
Mr. Karimuddin Reply:
July 1st, 2009 at 2:39 pm
Anis – yes, saya juga pernah baca klausul suatu unit link seperti itu. bayar premi 5 tahun lalu cover selamanya sampai usia 60 tahun misalnya. Memang betul itu suatu “keunggulan”, tapi apa pernah Anis cek apa perbedaan coverage dari asuransi kesehatan biasa dan asuransi unit link ini? Coba ricek lagi soal apa saja yang di-cover oleh unit link, misalnya biaya rawat inap atau penyakit apa saja yang di-cover. Atau apakah unit link ini hanya memberikan sejumlah santunan jikalau terjadi penggunaan asuransi?
Oh ya, ini jawaban Ligwina Hananto herself tentang unit link: http://qmfinancial.com/content/view/140/36/
[Reply]
Amir, klo boleh tau apa nama asuransi ma investasi yang kmu pake? soalna ku juga lg berencana bikin ni. Pengen tau aja, pasti na kan yang kmu pilih udah kmu bandingkan dengan smua brand yang ada. Dan tentunya yang kmu pilih kan yang paling menguntungkan konsumen ^_^ klo tidak keberatan boleh dong di share di sini, tapi klo takut dibilang promosi di-email aja ke aku. tks a lot for your help.
maap, baru kenal dah nanya macem2, hehehe
auLia
[Reply]
auLia – jika Anda perhatikan tulisan saya, saya tidak apply asuransi 3rd party sama sekali. Kenapa?
1. Asuransi jiwa – kita sama-sama bekerja, belum ada anak dan tidak menanggung orang tua. So?
2. Asuransi kesehatan – asuransi dari kantor masih cukup dan layak. Alhamdulillah
Tentang investasi, yang penting Anda berinvestasi di tempat yang memiliki kredibilitas tinggi dan bisa dipercaya, termasuk misalnya Anda berinvestasi untuk bisnis. Untuk paper investment, silakan cek track record Manajer Investasi bersangkutan.
Tidak perlu menyebut produk tertentu untuk hal ini
[Reply]
Hai amir..
thx buat infonya. Mu nanya ney, klo semacam manulife itu pure investasi atau investasi+saham atau unit link atau???
Huaa.. terus terang aku awam bgt deh..
[Reply]
Mr. Karimuddin Reply:
July 10th, 2009 at 8:04 am
Wian – Manulife itu punya both asuransi dan investasi. Both are legit
[Reply]
« Mohon Maaf.. Next Post
Check List.. Check List.. »














kayanya ada koq mr.kamiruddin asuransi kesehatan saja yg untuk orang tua.yaitu di winterthur. CMIWW
[Reply]
Mr. Karimuddin Reply:
July 1st, 2009 at 8:13 am
hime – Thanks infonya
Baru cek di Winterthur tentang program Senior Hospital+ http://www.winterthur.co.id/id/pro_inp_sho_pre.html dan http://www.winterthur.co.id/id/pro_inp_sho_ben.html, dia meng-cover 55-70 tahun. Hanya saja nampaknya yang di-cover hanya untuk biaya rawat inap, sementara untuk misalnya biaya pengobatan atau operasi tidak di-cover CMIIW (berdasarkan informasi di situs). Ada lagi yang bisa memberikan informasi tentang asuransi kesehatan untuk senior citizen?
Oh ya, it’s Karimuddin, not Kamiruddin
[Reply]