Review Nissan March (Part 1): Overview

Disclaimer: Tulisan ini merupakan bagian dari kampanye Nissan Motor Indonesia yang bertajuk 7 days with March. Ikuti keseluruhan rangkaian cerita yang terdiri dari 7 tulisan dengan tag berikut ini. Semua yang ditulis di sini bersifat obyektif.

Saya termasuk blogger yang beruntung mengikuti program “Nissan Experience” yang diadakan Nissan Motor Indonesia dengan tajuk “7 days with March” ini. Programnya tentu saja berupa kesempatan untuk menjajal Nissan March seolah-olah menjadi milik sendiri, plus dibayari pula bensinnya, selama 7 hari. Kebetulan saya tidak memiliki masalah dengan transmisi matik atapun manual, jadi saat ini hadir di garasi rumah sebuah Nissan March bertransmisi manual dengan stiker khusus di sisi kiri dan kanan menemani mobil keluarga kami.

Acaranya sendiri digagas Nissan sebagai cara lain mengetahui persepsi masyarakat, berbeda dengan gathering media yang biasanya dilakukan saat memperkenalkan suatu produk baru. Setelah beberapa waktu diluncurkan, Nissan ingin mendapatkan timbal balik lebih dari masyarakat dan komunitas. Blogger memiliki cara tersendiri untuk mengemukakan pendapatnya. Dan kami (sebagai blogger) tahu bahwa suara kami makin didengar oleh siapapun, termasuk sebuah produsen mobil terkemuka ini.

Apa yang Didapat?

Selain unit mobilnya, kami mendapatkan sejumlah informasi berkaitan dengan product knowledge dan smart driving. Product knowledge tentang Nissan March penting karena kita perlu tahu kelebihan apa saja yang ditawarkan oleh Nissan March ini. Kita perlu tahu pula karakteristik dan pengkategorian yang dimiliki oleh mobil ini sehingga saat membandingkan dengan kompetitor sejenis dapat apple-to-apple.

Nissan March sendiri memiliki kapasitas mesin yang tidak begitu besar, cuma 1200 cc. Meskipun demikian, bodi mobilnya sekelas dengan Yaris, Swift, Mazda 2, atau mungkin juga Fiesta. Bahan bakarnya optimal menggunakan oktan 92 dan diklaim sangat irit, terutama jika dikendarai dengan teknik ecodriving.

Ecodriving ini sendiri termasuk bagian dari smart driving. Bagian lain yang termasuk dalam lingkaran smart driving adalah safety driving dan defensive driving. Titik berat ecodriving adalah mindset, di mana kita tidak berkendara secara agresif dengan tujuan memperoleh tingkat penghematan bahan bakar yang diinginkan. Syarat utama penggunaan cara ecodriving di Jakarta tentunya adalah waktu yang cukup.

Dengan lalu lintas Jakarta yang sulit diprediksi dan macet di mana-mana, sejujurnya memang tidak mudah menerapkan ecodriving ini. Akan lebih nyaman jika mempraktekkannya di akhir pekan saat jalanan di beberapa tempat menjadi lebih lancar.

Saya pribadi memiliki kebiasaan di tengah-tengah. Saat hari berkendara di hari kerja yang menitikberatkan di ketepatan waktu berkendara dengan (cukup) agresif adalah solusi. Kompensasinya kita bisa lebih bersantai dan menerapkan ecodriving saat akhir pekan dan jalan-jalan bersama keluarga.

Nah, setelah mendapat ilmunya, kita berhak mencoba Nissan March ini. Kesan pertama yang saya dapatkan adalah ternyata ruangan di dalamnya cukup lega dengan langit-langit atap yang tinggi, bahkan dibanding hatchback sejenis. Selain itu mobil ini memiliki keunggulan di radius putar yang lebih kecil ketimbang kompetitornya.

Tema Besar

Nah, tema besar yang ingin saya angkat dalam rangkaian tulisan ini justru berasal dari apa yang dipromosikan oleh Nissan March sendiri. Nissan March di Indonesia diposisikan cocok untuk anak muda lajang dan pasangan suami istri muda yang belum punya anak.

Bagaimana dengan kita-kita, termasuk The Karimuddins tentunya, yang sudah mulai punya anak bayi-balita. Apakah Nissan March masih cocok untuk segmentasi kita ataukah harus beralih ke kelas yang lebih tinggi?

Pertanyaan itu yang ingin saya gali jawabannya dalam petualangan bersama Nissan March selama 7 hari ke depan 🙂

4 thoughts on “Review Nissan March (Part 1): Overview

  1. Memez says:

    Kalau 7 hari sudah berlalu, mohon diinfokan ya… karena sedang memilih antara Nissan March dengan Jazz atau Yaris. Makasih postingannya 🙂

    [Reply]

    Mr.Karimuddin Reply:

    halo, ada hal-hal tertentu yang menjadi pertimbangan khusus dan ingin dibahas?

    [Reply]

  2. agogo says:

    my opinion, kabin quality built medium, Fuel Cons OK. handling ga buruk buat small harchback, cuman mesin 3 silinder 1200cc nya itu lhoo, cukup kasar menurutku, peredaman kabin kurang bagus, suara mesin cukup kenceng terdengar, meski pada versi nismo dikompensasi dengan akselerasi yang cukup yahud. Intinya buat yang biasa bawa mobil 4 silinder, harus membiasakan diri dengan karakter mesin 3 silinder ini. manual transmision lebih disarankan karena fuel cons yg minimum dan akselerasi yang masih bisa dikompromi dengan transmii manual, buat yang matic? hmmm Big NO for 1200 cc 3 cylinders car…

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *