Field Trip Ke Monas

Satu rahasia, yang bukan rahasia juga, adalah ayahnya Aghnan belum pernah masuk ke Monas. Well, dulu pas jaman Jakarta Fair masih di Monas sih ya main juga ke area ini, tapi sampai saat beberapa hari yang lalu belum pernah punya kesempatan untuk main-main ke puncak Monas. Maklum, saya gak sekolah di Jakarta, jadi ya wajar saja kalau darmawisata dulu tidak termasuk mengunjungi puncak Monas ini.

Jadi pas ada kesempatan dari sekolahnya Aghnan untuk ikutan field trip ke sana, Ayahnya ini langsung pengen ikut. Gak tahu apakah Aghnan juga sama excited-nya, meskipun pasti kalah sama minatnya tentang kereta api atau air mancur πŸ˜€

Akhirnya pas Jumat kemarin, Aghnan, ayah, dan mbaknya ikutan field trip ke Monas. Karena rumah kita dekat jadinya kita bawa kendaraan sendiri dan janjian ketemuan di sana. Ternyata yang ikutan dari sekolah tidak banyak, cuma dua anak lagi yang dua-duanya sudah cukup besar. Aghnan jadi yang paling kecil yang ikutan.

Dari parkiran IRTI (di seberang Kantor Gubernur) kita naik kereta-mobil yang memang secara gratis (seharusnya hanya untuk yang mau masuk Monas) membawa kita menuju pintu gerbang. Seperti halnya naik choo choo train di mall, Aghnan sangat menikmati perjalanan dengan kereta-mobil ini. Kayaknya bakal ajak lagi Aghnan naik kendaraan ini ya Bunda πŸ™‚

Karena tiket udah dibeliin sama koordinator field trip-nya, kita masuk-masuk aja deh. Biaya masuk ke pelataran adalah Rp 2500. Awalnya kita masuk ke ruangan dasar. Isinya kebanyakan diorama sejarah bangsa Indonesia. Dari jaman prasejarah, Sriwijaya, Majapahit, sampai jaman Kemerdekaan. Cuma kesannya ruangan ini meski luas rada gelap ya. Padahal yang paling banyak berkunjung itu anak sekolah. Banyak juga turis asing yang berkunjung di sini untuk melihat sejarah negara kita (dalam bentuk visual).

Setelah itu kita memutuskan untuk naik ke puncak. Biaya akses untuk ke puncak Monas adalah Rp 7000 per orang. Untuk naik ke atas kita perlu menggunakan lift — yang untuk mencapainya pun masih harus menaiki tangga lagi. Ada 3 lantai yang bisa dicapai menggunakan lift ini dan puncak Monas berada di “lantai 3”. Sejujurnya lift yang ada cukup sempit. Plus operatornya malah membawa kursi untuk duduk. Dengan cukup berdesak-desakan, kita menuju puncak.

Sesampainya di puncak, jangan harap pemandangannya seperti di Empire State Building ya πŸ˜€ Well, kita bisa melihat seputaran Monas dengan jelas, seperti kawasan Medan Merdeka, tapi ternyata Monas tidak cukup tinggi misalnya untuk melihat batas pantai kota Jakarta. Di Cilantro Wisma BNI 46 (yang sekarang sudah tidak ada), kita bisa melihat hingga garis pantai. Untuk melihat lebih dekat, kita bisa menggunakan teropong/teleskop yang tersedia di sudut-sudut Monas. Untuk memakainya kita perlu membeli koin seharga Rp 2000.

Aghnan sendiri hanya excited untuk melihat dua hal. Pertama adalah stasiun Gambir dan kereta api yang berseliweran di situ dan air mancur indah yang terletak di dekat Mesjid Istiqlal. Yang lain dia tidak peduli. Satu hal yang agak mengganggu, dan wajar di ketinggian segitu, adalah anginnya yang kencang. Kalau kita tidak pakai jaket ya harus siap-siap masuk angin.

Setelah turun ke bawah lagi, kita masuk ke ruang Kemerdekaan. Ini adalah ruangan yang memuat teks proklamasi, emas 22 kg sebagai hiasan ornamen di sekelilingnya, plus suara Bung Karno saat membacakan teks tersebut. Di sini juga diceritakan sedikit oleh pemandunya soal sejarah Monas dan emas yang ada di sini. ruang Kemerdekaan ini luasnya hampir sama besar dengan pelataran lantai dasar, tapi lebih banyak bangku panjang, mirip kayak di stadion olahraga.

Acara field trip disudahi di sini dan kita kembali ke parkiran menggunakan kereta-mobil yang ada. Seperti pas berangkatnya, Aghnan juga sangat senang naik kendaraan ini. Setelah foto-foto sebentar, akhirnya kita bareng-bareng nongkrong di McD untuk makan siang, sementara ayahnya Aghnan ke seberang untuk Sholat Jumat terlebih dahulu.

Overall, sejujurnya Monas memiliki potensi yang baik sebagai suatu obyek wisata unggulan. Apalagi dengan biaya masuknya yang bisa dibilang sangat terjangkau. Meskipun demikian saya harus akui bahwa pengelola Monas tidak bisa terus-menerus mengandalkan Β Monas yang seperti ini hingga 10-15 tahun mendatang. Buat saya, cikal bakal museum modern sudah hadir di Kota dalam bentuk Museum BI dan seharusnya Monas juga bisa dibuat lebih menarik lagi.

Tapi minimal Aghnan senang dengan jalan-jalan ini dan ayahnya juga sudah tidak penasaran lagi, seperti apa isi di dalam Monas itu πŸ˜€

2 thoughts on “Field Trip Ke Monas

  1. desi says:

    hihihi seumur2 juga aku blom pernah naek kemonasnya deh… liat review ini, jadi pengen coba kesana juga…
    btw, aghnan sekarang montok bgt ya… iihh tambah gemes liatnya… πŸ˜€

    oia..salam kenal ya keluarga karimuddin… very nice blog..(dulu pernah nyangkut keblog ini, gara2 resep nasi goreng gila.. hihihihi)

    [Reply]

  2. ura says:

    Aku juga belum pernah ke monas, padahal kadang kerja musti on site di kantor Indosat KPPTI yang sebrang monas hihihi

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *