The Karimuddins

..when three worlds collide..

Archive of ‘Financial’ category

Apa dan Bagaimana Reksadana

Kenapa kita perlu berinvestasi? Apakah menabung saja tidak cukup? Dua pertanyaan itu selalu terngiang-ngiang di kepala kita akhir-akhir ini, seiring makin gencarnya promo edukasi perencanaan keuangan oleh berbagai pihak. Kembali ke pertanyaan awal, saya bilang bisa saja menabung tanpa berinvestasi, asal dana yang ditabung untuk keperluan masa depan (kadang untuk 20-30 tahun lagi) itu bisa berjumlah ratusan juta sebulan. Mengapa begitu besar? Tak lain dan tak bukan adalah perbedaan/disparitas antara return tabungan yang “cuma” 2-3% setahun dibanding inflasi yang bisa mencapai 8-10%. Setiap tahun nilai uang kita turun, begitu juga nilai tabungan yang kita kumpulkan.
(more…)

Tentang Sahabat Foundation

Beberapa waktu yang lalu kan The Urban Mama ngadain financial talk di atamerica di Pacific Place. Pembicaranya mbak Vitri dari QM Financial dan ada juga pembicara lain yaitu Dondi Hananto mewakili Sahabat Foundation. Dari nama belakangnya sudah ketebak ya, itu memang suami nya Ligwina Hananto (ini suami istri kompak banget deh) . Somehow, aku tertarik banget waktu Dondi mempresentasikan tentang Sahabat Foundation ini. Dan surprisingly ternyata si mas sudah jadi penyumbang tetap selama kurang lebih setahun di Sahabat Foundation ini. Kayanya dulu sih udah pernah cerita, cuman aku yang kadang terlalu ignorance jadi ya iya iya saja. :P

Dengar presentasinya Dondi, somehow aku tertarik banget. Dondi cerita bahwa Sahabat Foundation ini terinspirasi dari kisah suksesnya Grameen Bank yang didirikan oleh Muhammad Yunus. Apah? Gak pernah dengar tentang Grameen Bank? Hehehe monggo di google ya. Atau bisa baca rekapan kisah suksesnya versi wiki disini. Intinya, Grameen Bank sukses membuat masyarakat miskin untuk bekerja dan tidak menyerah dengan kemiskinan. Caranya dengan memberikan micro credit kepada masyarakat kecil tanpa membutuhkan collateral.

Sahabat Foundation sendiri kurang lebih mirip dengan Kiva.org. Kalau yang ngefans dan suka nonton Oprah Winfrey pasti pernah dengar website ini. Aku pun dulu pernah berkontribusi di Kiva, namun lama-lama mikir lagi. Soalnya masa iya orang nun jauh disana gw bantu, tapi orang negeri sendiri gak dibantu. Secara ya negara kita masih banyak orang yang terjebak di bawah garis kemiskinan :( . Nah mangkanya, begitu dengar presentasi tentang Sahabat Foundation ini, aku jadi tertarik banget.

Jadi Sahabat Foundation jadi semacam perantara antara donatur dengan pengusaha kecil. Mereka mendaftarkan berbagai macam masyarakat kecil yang membutuhkan modal untuk memulai usaha kecilnya. Kalau lihat di websitenya Sahabat Foundation, modal yang dibutuhkan mereka itu gak banyak kok. Bahkan cenderung lebih sedikit dibanding pengeluaran kita sebulannya untuk bensin dan belanja bulanan. Bisa jadi pula, modal yang mereka butuhkan totalnya sama dengan harga baju yang baru kita beli di ZARA. Mungkin buat kita nominal itu biasa aja. Tapi mungkin buat mereka, bisa jadi segala-galanya. Kita bisa bantu hidup mereka, agar lebih produktif. Nanti modal yang sudah dipinjamkan itu tentunya akan dibayarkan kembali ke kita sama penerima tersebut. Namun karena sifatnya donasi, jadi modal yang sudah dikembalikan tidak kembali serta merta ke kita. Namun kita dapat kita putar kembali ke pengusaha lainnya yang membutuhkan. Mantab kan? Kalau kita mau melakukan donasi langsung tanpa sistem “pinjam” seperti itu juga difasilitasi sama Sahabat Foundation ko.

Filosofinya sih begini. Jika kita ingin bantu kasih makan orang yang tidak mampu, kita jangan kasih mereka ikan. Tapi kita kasih kailnya, agar mereka bisa memancing ikannya sendiri. Kita bantu masyarakat kecil itu agar bisa mandiri dan tentunya dengan mampunya mereka menghidupi dirinya sendiri, secara tidak langsung kita juga menunjang perekonomian bangsa kita. :)

Siapa sih yang gak prihatin dengan kondisi bangsa kita. Masih ada 14 juta jiwa bangsa Indonesia yang hidup dibawah garis kemiskinan. Mau protes ke siapa? Pemerintah? Anggota DPR? Duh sampai lebaran monyet juga mereka sibuk dengan urusan politiknya dan pencitraan masing-masing. Yang harus bergerak ya kita sebagai masyarakat sendiri. Salah satunya yang dengan Sahabat Foundation ini.

So daripada banyak ceng cong, monggo ditengok websitenya Sahabat Foundation. Bisa baca skema cara kerja mereka dan cara mendonasi nya. Buat yang punya account facebook atau google bisa langsung sign in menggunakan salah satu dari kedua account tersebut. Praktis kan?

Kalap vs Disiplin

Udah lamaaa banget kepengen beli wedges nya Up buatannya the famous Diana Rikasari. Gak lain gak bukan gara-gara racunnya Woro awalnya. Cuman selalu berdalih, belum perlu, budget lagi tight, keperluan Aghnan lebih penting dan segambreng alasan lainnya. Disaat kemarin gajian (gajian pertama setelah 3 bulan dengan budget tight) udah siap-siap aja dong menuju website nya Up. Eeh begitu mau pesan, ternyata mereka overloaded pesanan, dan baru bisa pesan minggu depannya lagi. Buset, laris manis bangeet ya ternyata (hebat banget). Minggu depannya pas mau beli eh kejadiannya sama lagi. Sampai aku email ke Up nya..

Jawabannya Up adalah, waktu hari Jum’at sudah dibuka, cuman langsung overloaded pesanan lagi. Jadi ditutup lagi for the rest of the week. Dan dia bilang Jum’at ini mau dibuka lagi. Okelah kalau begitu. Namun, yaa ternyata ke Bandung kemarin lumayan menguras budget belanja belum lagi bayar-bayar pesanan ini itu yang lama. Lihat budget langsung tiris aja gitu buat jatah belanja gw :( . Dan terpupuskan lah kepengenan beli Up.

Sampai akhirnya hari ini ngintip website nya Up. Uhmm, mikir.. kok lucu ya.. mikir lagi.. lama juga ya 2 minggu.. mikir lagi.. keren ya.. dan akhirnya.. eng ing eng.. hasilnya tak terbendunglah hasrat untuk membeli wedges-wedges itu. Kalap dan langsung bungkus 3 pasang (walau overbudget :( ). Hihihihi tak sabar menunggu Kate, Jane sama Anjani ke pelukan gww.. :D Bubar sudah keinginan gw buat frugal living yang mana beli baju/sepatu kalau diskon saja. Uhmm.. tapi kan sepatu kayak Up gak tau diskonnya kapan. Beda sama toko-toko baju fav macam X.S.M.L, Zara, Metro dll.. *alasanbanyaaaaaakk* :lol:

Berhubung gw sama si mas sangat terbuka dalam hal pengeluaran sehari-hari (cash flow kita sangat transparan terhadap satu sama lain) jadi lapor lah gw akan ke kalapan yang terjadi..

*speechless*

*tertunduklemas*

:lol: ..

Ya sudahlah, nasib punya suami disiplin. Tapi memang mesti begitu sih. Harus disiplin sama budget yang sudah dibuat bersama demi tujuan-tujuan kita yang lain. Hihihihi.. Baiklah kalau begitu, Stella , Lola sama the other Jane kamu sabar yaa..  Bulan depan, eh 2 bulan lagi atau 3 bulan lagi aku baru bisa beli kalian yaa..

The Book

Akhirnya dapat juga buku perdana nya Ligwina Hananto :) . Pesan di inibuku.com dapat diskon 25%. Sayang rada kecewa sama pelayanannya inibuku.com . Gak ada kejelasan apakah bayarnya COD, pakai transfer atau CC. Di email balik gak dibalas. Cuman dapat konfirmasi. Dan email selanjutnya adalah konfirmasi pengiriman dan ternyata pembayarannya COD. Untung orang rumah punya uang cadangan. Kalau gak kan repot. Tapi berhubung diantarnya cepat jadi gak begitu kecewa.

Semalam baru mulai baca dan langsung sampai halaman 117 dan akan aku habiskan hari ini. Enak banget baca bukunya, tata bahasanya mengalir. Dan buku pun di tulis dengan gaya bahasa nya Ligwina yang khas. Lugas, sedikit nyentil tapi komprehensif dengan menyajikan data-data yang akurat.

Ini buku WAJIB PUNYA buat semua golongan menengah Indonesia ya. For better Indonesia, kita harus benahi diri kita sendiri agar bisa membantu sesama :) Syemangaatt!! *pasangikatkepala*

Update: Buku ini candu banget, akhirnya aku bisa selesai baca juga (kira-kira 3 jam dari nulis post ini. hehehe curi-curi waktu sambil nungguin kerjaan jalan). In the end aku semangat banget. Apalagi Ligwina mencantumkan daftar 100 langkah / checklist untuk tidak miskin. Buat aku, itu kayak goal dan tantangan. Uhm.. I love challenge!! Dan gak sabar untuk mewujudkan 100 langkah tersebut. Colek ayah, kemudian mengucap bismillah. InsyaAllah, we can make it :)

Menyamakan Visi Rencana Keuangan

Jujur saja selama ini keuangan keluarga itu yang atur kebanyakan si mas. Iyah harusnya kan istri yah yang seharusnya mengatur keuangan keluarga, tapi dalam rumah tangga itu Ayah yang sangat berperan. Alasannya ya karena aku sangat sangat sangat kacau kalau disuruh megang duit. Pasti bisa bubar jalan gak karuan kalau aku yang disuruh ngatur. Bisa-bisa tengah bulan udah gak ada cash karena habis buat belanja A, belanja B dan belanja lainnya. Tentunya dengan segambreng alasan. :lol:

Yaah sadar dong dengan kelemahan diri sendiri, akhirnya keuangan rumah tangga kita diatur sama si mas. Aku cuman tau beres dan dapat kartu sakti bernama magical shopping account. Istilahnya debit card buat aku belanja per bulan sampai abis bis bis bis.. :lol: Untungnya aku sama mas itu super terbuka. Jadi cashflow itu transparan banget satu sama lain. Dan gak ada main rahasia-rahasiaan. Mangkanya susah kalau sok sok mau kasih surprise ke mas. Ujung-ujungnya pake CC dulu dan ujung-ujungnya cerita juga nonimal kadonya berapa. :lol:

Tapi yah, lama-lama sadar diri juga sih jadi istri. Dan kayaknya aku mesti belajar juga seperti mas bagaimana mengatur rencana keuangan keluarga kita. At least menyamakan visi nya deh. Mangkanya waktu mommies daily buka talk show tentang Financially Fit bersama Ligwina Hananto, langsung deh daftar. Guess what, aku pendaftar nomor 100 (terakhir bow). Jadinya kayanya memang sudah meant to be ikut deh. Padahal waktu itu cuman iseng buka mommies daily. Bayarnya pun cuman 100k IDR. Kayaknya untuk ilmu yang dapat merubah hidup itu worth it bangeet.

Pas cerita ke mas aku mau ikut talk show nya Ligwina, dia cuman senyum-senyum saja. Dan tentunya dengan senang hati men transfer kan uang untuk bayar talk show itu. Kebetulan banyak teman-teman di ranah maya yang ikutan. Jadi seneng deeh.

Acaranya mulai jam 10.00. Tapi aku sudah jam 09.00 nongkrong di Foodhall Belezza. Abisan takut macet dan telat. Sampai sana kepagian tapi gpp, jadi bisa sarapan dulu bareng si mas di Foodhall. Btw, mashed potato bolognaise nya foodhall endaang bok..

Anihoo, sekitar jam 09.45 aku naik keatas, dan langsung duduk manis di sebelahnya bheboth. Akhirnyaaaa kenalan langsung juga ya mak. Ternyata orangnya rame bok, tidak menyangka, abisnya di foto keliatannya pendiam nan malu-malu siih.. :P Gak lama datang emak-emak yang sudah aku kenal. Ada Yesi, Lia, Dhita, Mira, Vania dan Indah. Terus akhirnya ketemuan juga sama Amel mamanya Tanaya dan Itiii mamanya ZK (akhirnyaaaaaaaa :) ). Btw aku suka banget make over hair nya Iti. Keren banget aslinya. :)

Setelah makan snack acarapun di mulai. Oh iya ini dia bahan yang dibahas waktu talk show kemarin:

  • Menabung saja tidak cukup!
  • Dana Pendidikan
  • Dana Pensiun
  • Komponen Rencana Keuangan
  • Cek Arus Kas
  • Switch & Activate Your Money
  • Investasi = Risiko + Tujuan + Hasil Investasi
  • Reksadana
  • Aset Aktif
  • Asuransi
  • Action Plan

Ligwina mulai dengan fakta mengejutkan tentang Dana Pendidikan anak kita nantinya. Sebetulnya aku gak begitu kaget sih, soalnya kan sudah pernah terkaget-kaget sampai guling-guling koprol sebelumnya di postingan ini. Cuman yah lumayan deg-deg an siiih. Satu anak aja biayanya sudah begitu banyaknya. Pigimana kalau dua anak? Jadi mikir lagi deh mau nambah anak.

Intinya sih Ligwina menunjukkan, dengan lifestyle seperti kita ini di Jakarta, terus dengan inflasi biaya pendidikan itu biasanya lebih tinggi daripada inflasi per tahun negara, kalau kita menabung saja tidak mungkin itu terkejar biaya pendidikan anak kita yang jumlahnya bombastis itu. Ligwina bilang rata-rata kenaikan harga sekolah pertahun itu sampai 20%. Dan dia menjadikan patokannya itu sekolah swasta. Memang sih pengennya aku sama mas, Aghnan bisa masuk PTN negeri kayak orang tua nya. Tapi kalau kita gak siapin baik-baik, kalau Aghnan gak keterima PTN terus gak sekolah gitu? Yang bener ajaa. Masa iya orang tuanya sarjana anaknya lulusan SMA aja. Maluuu ituuu maluuuuu..

Untuk itu kita perlu investasi untuk dana pendidikan anak kita. Sebetulnya investasi ini bukan hanya untuk dana pendidikan anak kita. Balik lagi ke Tujuan Loe Apa? Yang jelas kalau kita mau merencanakan keuangan ya kita harus tau tujuan nya kita, kondisi kita sekarang seperti apa, target waktu tercapainya kapan, dan bagaimana cara mencapai tujuan itu.  So financial check up sebelum bergerak itu penting :)

Yang jelas selama talk show berlangsung aku makin terkagum-kagum sama si mas dan semakin bersyukur punya suami seperti mas. Soalnya yaa, semua yang Ligwina bilang itu sudah dilakukan sama si mas. Well let see:

  • Bebas Hutang CC (checked) –> CC sih masih dipakai, tapi biasanya karena promo dah biasanya langsung lunas bulan sesudahnya.
  • Dana Darurat (checked)
  • Nabung minimal 10% dari penghasilan (checked)
  • Investasi Dana Pendidikan Aghnan di reksadana (checked)
  • Investasi Dana Pensiun Kita di reksadana (checked)
  • Komponen Rencana Keuangan yang seimbang (checked) –> salah satunya cicilan hutang < 30% dari total penghasilan kita

Si mas juga sudah mengalokasikan masing-masing tujuan kita ke masing-masing reksadana. Jadi 1 RD = 1 Tujuan kita. Kita bahkan sudah mulai investasi sejak sebelum menikah. Si mas sendiri jatuh hati sama servis nya Bank Asing warna kuning itu. Jadi kalau untuk investasi dan beli beli reksadana kita ke Bank itu. Sebetulnya investasi reksadana ada banget risiko nya. Cuman Ligwina menerangkan kalau “the risk of NOT investing is greater than investing”.

Overall sih rencana keuangan kita sudah dalam jalur yang benar. Tinggal komitmen kita saja nih (baca: komitmen gw) supaya bisa berjalan sesuai rencana. Mungkin pe-er nya kita adalah belum membuat Asuransi Jiwa buat si mas. Kalau aku kayaknya bakal ada tunjangan dari kantor kalau terjadi apa-apa sama aku. Cuman besarnya berapa? Mesti cek ricek lagi. Kemudian strategi kapan membuat Asuransi Kesehatan buat kita, terutama buat si mas ya. Soalnya kalau aku pensiun, mas tidak ditanggung lagi sama kantor aku. Yang jelas masih subject to disscuss sama kita deh.

Abis dari talk show itu rasanya seru juga kalau ada talk show lanjutan untuk membahas ini lebih dalam lagi. Bahkan mungkin si mas perlu ikutan training untuk membuat rencana keuangan? Hehehe we’ll see deh. Yang jelas, semogaa 2011 ini rencana keuangan The Karimuddins bisa lebih fit dan proper. Dan bisa memenuhi target. Amiiin.

Btw, mau rangkuman lengkap seminar kemarin bisa lihat di post nya Indah atau post nya bheboth (canggih euy ngerangkumnya aku malash sekalii :P ) and  more info about financial planning, check out QM Financial nya Ligwina saja yaa.. :)


Asuransi vs Investasi

Ada pembaca kita yang bertanya soal asuransi dan investasi. Kedua hal ini sebenarnya buat saya adalah dua spesies yang berbeda. Investasi sebagai kita tahu adalah cara mem-preserve keuangan kita untuk lebih tinggi dari inflasi dan mencapai suatu tujuan finansial tertentu, misalnya dana pensiun, dana beli rumah, dana liburan, dana pendidikan, dll. Asuransi di sisi lain adalah suatu teknik “sedia payung sebelum hujan” untuk KESEHATAN kita dan (sebagian) kesehatan finansial kita dan keluarga.

Di sini saya coba bahas tentang asuransi. Kenapa kita perlu asuransi? Kita perlu payung jika sewaktu-waktu hujan, payung dapat digunakan untuk melindungi kita. Kalau tidak ada hujan? Gak apa-apa juga punya payung, hari ini tidak hujan bukan berarti besok pasti tidak hujan juga kan? Itu gambaran umumnya. Saya sebenarnya cukup awam dengan detil asuransi, jadi lebih baik dibahas dari pandangan awam juga. Asuransi secara besaran dibagi menjadi dua, asuransi jiwa dan asuransi kesehatan. Karena pasti sudah pada tahu artinya, kita skip langsung ke bagian kapan seharusnya kita apply kedua asuransi tersebut.

Asuransi Jiwa

Asuransi jiwa sebaiknya di-apply jika hidup keluarga bergantung pada kepala keluarga misalnya. Jikalau ayah yang membiayai hidup keluarga tiba-tiba dipanggil olehNya, keluarga tentu juga tiba-tiba tidak memiliki stream income yang biasa dinikmati. Asuransi jiwa ini berguna untuk meng-cover biaya hidup keluarga yang ditinggalkan.

Jadi misalnya biaya pertanggungan/santunan adalah IDR 100 juta, maka jika kepala keluarga passed away, duit 100 juta itu yang digunakan untuk membiayai hidup keluarga, sampai misalnya ibu mencari stream income baru. Kapan tidak perlu memiliki asuransi jiwa? Jika Anda masih single dan tidak ada tanggungan yang secara finansial “kehilangan” (misalnya orang tua) jika tidak ada stream income yang dihasilkan oleh Anda.

Asuransi Kesehatan

Berikutnya adalah asuransi kesehatan. Kebanyakan dari Anda yang menjadi pegawai tentunya sudah memperoleh jaminan asuransi kesehatan. Meskipun demikian harus Anda telaah dalam-dalam hal apa yang di-cover dan yang tidak. Jangan sampai Anda over-confident bahwa semua penyakit bakal di-cover oleh asuransi kesehatan tempat Anda bekerja. Bisa saja ternyata hal-hal tertentu sama sekali tidak tercantum di klausul asuransi kesehatan kantor. Silakan cek dan ricek lagi. Juga pastikan berapakah besaran rawat inap per malamnya yang ditanggung.

Sebagai contoh, ada asuransi kesehatan yang meng-cover biaya rawat inap IDR 400 ribu per malam. Ini kira-kira setaraf kamar kelas dua di RS ternama. Jika Anda ingin mendapatkan perawatan di kelas yang lebih tinggi, Anda bisa menyiasati dengan memiliki asuransi kesehatan dari 3rd party yang bisa menambah kekurangan (jika ada) reimburse biaya perawatan sakit Anda (dan/atau keluarga). Ingat sebagai tambahan, bukan sebagai sarana cari untung dengan me-reimburse ke kantor dan 3rd party sekaligus.

Asuransi Kesehatan Setelah Pensiun?

Nah, yang seharusnya jadi masalah adalah jika pensiun bagaimana? Biasanya kebanyakan kantor hanya meng-cover selama Anda bekerja di perusahaan tersebut. Jika sudah berumur 55 tahun dan pensiun, perusahaan mempersilahkan Anda untuk membiayai urusan kesehatan sendiri, padahal justru kebanyakan penyakit mulai menyerang setelah usia pensiun.

Ligwina Hananto mengkonfirmasi bahwa di Indonesia saat ini belum ada asuransi yang meng-cover mulai masa pensiun ini (di luar sepertinya ada, belum cek sih). Kebanyakan sih harus dimulai dari sekarang, meskipun belum tentu sekarang butuh (ingat dua perlindungan itu terlalu berlebihan jika coverage dari kantor sudah lebih dari cukup). Jadi sekarang cara mempersiapkannya adalah.. dengan membuat investasi dana kesehatan :D buatlah perencanaan dana kesehatan di masa pensiun sebagaimana persiapan dana pensiun. Jangan salah, jangan ambil dana pensiun untuk dana kesehatan! Kalau dana pensiun diambil salah satu, gimana pasangan kita mau menghidupi diri kalau begitu?

Unit link?

Bagaimana dengan unit link?? Hampir semua perencana keuangan independen — artinya tidak ada afiliasi dengan produk tertentu — tidak menyarankan produk seperti ini. Mengapa? selain tujuan awalnya berbeda, dua spesies dalam satu produk tentunya tidak memudahkan kita mengatur porsi besaran mana alokasi asuransi dan mana alokasi investasi. Jangan sampai ternyata alokasi investasi Anda malah tersedot untuk asuransi. Saya pribadi tetap menyarankan untuk memisahkan di antara dua produk ini. Silakan pilih investasi dan pilih asuransi, jangan pilih asuransi+investasi. Percayalah akan lebih enak mengaturnya jika dipisah seperti itu :)

Update: salah satu tulisan Ligwina Hananto menyebutkan sejumlah alasan kenapa unit link itu tidak direkomendasikan. Kesimpulan saya, dua spesies dalam satu produk artinya benefitnya tidak optimal, baik dari sisi asuransi maupun dari sisi investasi.

[thumbnail image]

Perlu Investasi Pendidikan?

Ini merupakan kelanjutan pembahasan tentang biaya pendidikan anak. Sebelumnya istri telah memberikan suatu buzz yang cukup mengena di hati para pembaca sekalian. IDR 1.5M untuk biaya kuliah anak?? Well, bisa jadi 20 tahun lagi angka segitu bukanlah angka yang cukup bombastis. Sebagai ilustrasi yang paling gampang, saya akan bandingkan biaya kuliah secara total (dan nyata) di sebuah Universitas Negeri di Depok tahun 2001 dan tahun 2008.

Tahun 2001 (hingga lulus 2005)
Uang pangkal (admission fee) IDR 0 (sukarela) » pukul rata jadi IDR 5 juta
Biaya per semester (tuition fee) IDR 1.5 juta x 8 = IDR 12 juta
Biaya hidup (living cost, termasuk di dalamnya uang kos, makan, buku, dll) IDR 1 juta x 12 x 4 = IDR 48 juta
Total 65 juta

Tahun 2008 (hingga lulus 2012)
Uang pangkal (admission fee) IDR 25 juta
Biaya per semester (tuition fee) IDR 7.5 juta x 8 = IDR 60 juta
Biaya hidup (living cost, termasuk di dalamnya uang kos, makan, buku, dll) IDR 1.5 juta x 12 x 4 = IDR 72 juta
Total 157 juta

Dari tahun 2001 ke 2008, kenaikan biaya secara total adalah hampir 100 juta atau hampir 2.5 kali lipat. Tahukah Anda bahwa selama 7 tahun, jikalau dipukul rata dengan asumsi inflasi 10% tahun, nilai IDR 65 juta tahun 2001 itu seharusnya “hanya” setara dengan IDR 126 jutaan saja di tahun 2008? Artinya jika kita memasukkan dana di deposito IDR 65 juta dan mendapat bunga 10% per tahun pun tidak akan mampu membayar secara total biaya total kuliah anak kita!

Bagaimana nasib anak kita saat masuk kuliah 18 tahun atau 20 tahun lagi?? Kita tidak tahu apakah mungkin akan terjadi krisis ekonomi global 10 tahun lagi atau mungkin ada krisis minyak 15 tahun lagi yang mungkin memicu lonjakan inflasi, jadi harus bagaimana?

Menurut panutan kita, Ligwina Hananto dari QMFinancial — yang juga sebenarnya sudah ada di bundel Femina beberapa waktu lalu — tidak ada jalan lain selain berinvestasi untuk buah hati kita. Jika kita mulai dari sekarang — misalnya saat anak Anda baru lahir, semua dananya bisa dimasukkan ke Reksadana Saham. Setelah 5 tahun, silakan pisahkan dana untuk masuk SD ke Reksadana Pasar Uang (atau Reksadana Pendapatan Tetap) dan begitu selanjutnya hingga 15 tahun ketika anak sudah hampir memasuki masa kuliah.

Okay, jadi sebenarnya 18 tahun lagi sebenarnya berapa kira-kira biaya kuliah anak secara total? Dengan asumsi kenaikan 10% per tahun dan basis kita sekarang biaya kuliah total adalah IDR 157 juta, kita bisa mendapati angka IDR 872 jutaan! Ups, jangan shock dulu. Kita tahu dari ilustrasi di atas bahwa besaran kenaikan adalah lebih dari 10%. Jikalau kita gunakan asumsi kenaikan harga biaya pendidikan naik 15% per tahun, didapatilah angka bombastis hingga hampir IDR 2M! Udah pusing sekarang? Itu baru kuliah lho, belum SMA, SMP, SD, atau TK bahkan :D

Bagaimana dengan “solusi” reksadana saham kita? Dengan asumsi pukul rata mendapatkan pertambahan dana 20% per tahun, tahukah Anda bahwa 18 tahun lagi jika Anda rutin memasukkan IDR 1.5 juta tiap bulan akan memperoleh lebih dari IDR 3M? InsyaAllah dana tersebut cukup jika digunakan untuk total biaya pendidikan anak secara total hingga lulus S1. Tapi perlu diingat, itu cuma untuk satu anak. Kalau dua anak ya harus punya dua rekening. Tiga anak? Tiga rekening. Dan itu HARUS tidak mengganggu investasi hari tua kita.

Sekali lagi, itungan ini bukan itungan saklek. Anda bisa mengurangi komponen biaya hidup jika merencanakan anak tetap tinggal dengan orang tua. Setidaknya Anda tahu bahwa biaya pendidikan itu tidak murah dan kita tentunya ingin pendidikan terbaik bagi putra-putri kita kelak.

Udah pusing menghitung perencanaan finansial keluarga? :D

[thumbnail image]

1.5 Milyar..

..minimal untuk dana pendidikan satu anak jaman sekarang (TK-SD-SMP-SMA-S1). Rasanya tertampar hebat begitu mendengar Financial Clinic tadi pagi di radio. Walaupun cuman sekilas, tapi bikin aku berpikir keras. Haduh bagaimana ini yak.. Heran yah, padahal punya anak belum tapi udah pusing urusan beginian. Mengerikan sih sebetulnya kenyataan yang ada, tapi bagaimana juga harus diatasi dan sebisa mungkin di persiapkan dari sekarang. Itu baru aja pendidikan, bagaimana soal kesehatan dan lain sebagainya.. Dan itu baru satu anak sajaa.. Onde mandeee.. Langsung pupus deh impian punya anak 4. *halah..

Bagaikan stop watch yang langsung berputar, mungkin itu kali ya konsekuensi jika ingin punya anak. Begitu dua strip itu muncul di alat pengecek kehamilan, and instantly your life will change. Step aside your ego, and start re-priotizing ur life. Huaaaaaahh… Bikin aku deg-deg-degan bangeet. Berpikir ulang, sudah siapkah aku dan mas? Nyay nyey nyoy.. Memang gak segampang itu bilang, “sudah siap jadi orang tua”, bawaan dibelakangnya akan banyak bangeet.

Mungkin itu juga kali ya, sampai sekarang aku sama hubby belum diberikan amanah itu. Maybe, memang belum siap, lahir dan batin. And somehow, memang betul Allah tau yang terbaik buat umatNya. Sebulan yang lalu, aku yang kepengeen banget, tapi akhir-akhir ini banyak kenyataan yang membuat aku tergampar-gampar dengan sukses kalau ternyata… It will not be easy. So many things to think about. Dan aku yakin Allah sayang banget sama aku dan mas, karena kita masih diperbolehkan bersenang-senang  dahulu.. :)

Jadi, kapan siapnya? Dunno, diserahkan sepenuhnya sama yang di Atas. Soalnya terkadang manusia sering sekali keliru menilai dirinya sendiri. Seperti aku nih. Tapi jika kita akhirnya diberikan amanah itu, insyaAllah itu memang waktu yang terbaik, dan aku PASTI sudah siap.. :D

Oh well, another homework for us ya mas. Btw, for financial thingy aku serahkan semuanya ke mas akhirnya. Soalnya aku menyerah menjadi Menteri Keuangan rumah tangga kita. Bukannya I’m not good at planning, namun soal strategi financial si mas jauh lebih jago dibanding aku. Huehehehehe.. :P

[thumbnail image]

Magical Shopping Account

Suatu konsep yang diperkenalkan oleh Ligwina Hananto, the financial planner, adalah “magical shopping account”. Ini konsep yang memisahkan antara anggaran untuk belanja bulanan dan belanja khusus istri (kita semua tahu kalau wanita memang suka belanja :P ). Artinya ada jatah khusus untuk istri berbelanja barang-barang keinginannya, termasuk di antaranya baju, sepatu, dan tas. Bukan sesuatu yang benar-benar baru, tapi biasanya dibutuhkan komitmen yang cukup tinggi untuk melakukannya dari kedua belah pihak.

Cara menerapkannya tentunya tidak sulit. Yang diperlukan hanyalah rekening tabungan baru untuk menampung anggaran ini. Untuk memudahkan, sebaiknya akun tersebut memiliki kemudahan pembayaran dengan kartu debit, seperti yang berlogo Visa Debit ataupun Prima BCA yang diterima di hampir semua merchant. Jadinya tanpa perlu ke ATM lagi, akun dapat langsung digunakan.

Kenapa sih perlu ada “magical shopping account” ini? Tentunya ini sangat membantu agar uang belanja bulanan malah tidak tergerogoti oleh “belanja khusus”. Banyak kasus di mana justru jatah belanja bulanan menjadi sangat berkurang karena tidak mampu mengelola pembagian antara belanja reguler dan khusus yang ditaruh dalam satu rekening.

Daripada capek-capek menghitung pembagian secara “ngawang-ngawang” dan sering-sering cek saldo, mending sekalian dipisahin. Ya pastinya harus dibicarakan berapa jumlah yang perlu diisi di akun ini. Saya sendiri mengalokasikan sekitar kurang lebih 10-12% dari pendapatan total kita. Ya itungan ini tidak saklek, silakan sesuaikan dengan kemampuan keluarga masing-masing.

Buat istri tercinta sih aku berikan kebebasan untuk menggunakan dana di akun tersebut sesuka hati, asal dengan syarat dananya masih cukup. Jadi kalo jalan-jalan di mall dan nemu barang lucu bin cantik yang bikin ngiler, gak perlu minta permission lama-lama dari aku. Asal dana di rekeningnya masih cukup ya bisa langsung gesek deh, dijamin bikin bahagia dan tidak bikin jatah belanja bulanan yang lebih primer tersaingi. Hihihi.. gak perlu kartu kredit kan kalo yang kayak gini :D

[thumbnail image]