Tentang Kanker Serviks

Setelah menikah, jujur saja aku mulai aware dengan segala macam hal yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi wanita. Ya iyalah yaa, secara setelah menikah aku sudah aktif menggunakan organ reproduksi ini.. Hihihi.. Istilah kedokteran sih sudah aktif secara seksual.. 😛 Kebetulan direktorat ku selalu mengadakan Knowledge Sharing setiap minggu, dan alhamdulillah tema yang diangkat hari ini adalah mengenai Pencegahan Kanker Serviks.

Pengetahuan aku nol besar sebelum ikut seminar ini. Taunya cuman kanker serviks itu kanker leher rahim saja. Leher rahim dimana aja letaknya pun eike gak ngerti.. Dasar cupuuu.. 😛 Alhasil aku semangat banget ikut ini seminar. Pembicaranya itu dr. Arie Waluya, SpOg dari RSIB Asih. Hihi ini dokter tampangnya baik dan sabar bener. Dan kata ibu-ibu kantor sih ini dokter termasuk yang ok di RSIB Asih. Asiiik salah satu referensi lagi niiiy.. 🙂

Anyway, seminar dibuka dengan kenyataan bahwa Kanker Serviks itu adalah kanker terganas nomor 2 di Dunia. Dan ternyataa Kanker Serviks itu adalah kanker terganas nomor 1 di Indonesia. Omaigot yaa.. 🙁 Nomor 2 di Indonesia adalah Kanke Payudara. Statistik pun menunjukkan bahwa diperkirakan setiap satu jam satu orang perempuan Indonesia meninggal karena kanker serviks. Hiiiyyy…

Jadi kanker serviks itu (bahasa kerennya kanker leher rahim) adalah tumbuhnya sel-sel yang tidak normal pada serviks (leher rahim). Perubahan sel-sel yang tidak normal itu menjadi sel kanker memakan waktu 10 hingga 15 tahun. Kanker serviks umumnya terjadi pada rentang usia 30 hingga 50 tahun, yaitu puncak usia reproduktif perempuan sehingga akan menyebabkan gangguan kualitas hidup secara fisik, kejiawaan dan kesehatan seksual.. 🙁

Tersangka utama penyebab kanker serviks ini adalah sebuah virus (yang kalau digambar sih cantik bentuknya) yang namanya Human Papilloma Virus (HPV). Virus ini bersifat onkogenik yang istilah keren dari menyebabkan kanker 🙁 HPV ini dapat ditularkan melalui hubungan seksual. Tapiii penularan juga dapat terjadi meskipun tidak melalui hubungan seksual. Contohnya, penggunaan bersama alat-alat pribadi (macam handuk) yang telah terkontaminasi.  Jadi sebenarnya para pria bisa jadi membawa virus HPV ini. Dan bisa menularkannya ke istrinya. Mangkanya si dokter bercanda kalau kanker serviks ini penyakir pria derita wanita.. 🙁

Katanya sih ada beberapa faktor yang mendukung timbulnya kanker serviks, antara lain :

  • menikah saat usia muda (dibawah umur 20 tahun), hal ini dikarenakan saat pertama kali berhubungan seksual sel-sel reproduksinya masih belum matang.
  • kehamilan yang sering (diatas 7 anak)
  • merokok
  • penggunaan kontrasepsi oral jangka panjang (macam spiral)

Biasanya infeksi HPV ini berlangsung tanpa menimbulkan gejala. Namun, jika kita melakukan pemeriksaaan macam pep smear (pemeriksaan skrining) dapat ditemukan adanya sel-sel serviks yang tidak normal yang disebut juga sebagai lesi prakanker. Kalau masih prakanker, kata si dokter sih masih bisa 100% disembuhkan. 🙂 Namun kalau sudah menjadi kanker serviks, katanya sudah 0% harapan untuk disembuhkan. Ketahanan hidupnya pun tinggal rentangan 5 tahun saja.. Huaaaaa… 🙁

Menurut si dokter, tanda-tanda dimana sel kanker sudah mengalami progresifitas gejalanya antara lain adalah :

  • pendarahan dari liang senggama (ini bukan darah perawan ya bok.. itu mah sehat kalau darah perawan .. 😛 )
  • timbulnya keputihan yang bercampur darah dan berbau
  • nyeri panggul dan gangguan atau bahkan tidak bisa buang air kecil.

Kalau sudah ada tanda-tanda seperti itu sih better langsung konsultasi ke dokter.. Yang jelas yaa, setiap perempuan berisiko terkena infeksi HPV penyebab kanker serviks dalam masa hidupnya, tanpa memandang usia dan bagaimana gaya hidupnya. 🙁

Cara mendeteksi Kanker Serviks antara lain dengan :

  • Pap Smear atau
  • Inspeksi Visual Asetat (IVA)

Namun, skrining tidak dapat mencegah terjadinya kanker serviks.. Tapi dapat mendeteksi secara dini. Kalau sudah terdeteksi sejak dini, masih dapat 100% disembuhkan. Btw yaa, ngomong-ngomong soal pap smear. Dulu kan eike taunya pap smear dilakukan kepada wanita yang sudah aktif secara seksual. Tapi ternyata gak looh sodara-sodara. Masih perawan juga harusnya sudah di cek pap smear. Bahkan di negara-negara barat, para abg-abg itu sudah diberi penyuluhan agar cek pap smear sedari dini. Hoalaaa…

Naah, good newsnya yaa untuk kanker serviks ini kita dapat melakukan pencegahan sedari dini. Ini namanya pencegahan primer. Yaitu melalui vaksinasi. Kombinasi vaksinasi dengan skrining dapat mengurangi kejadian kanker serviks secara efektif. Idealnya, vaksinasi ini sebaiknya diberikan sedini mungkin. Bahkan rekomendsi dari IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) dan HOGI ( Himpunan Onkologi Genekologi Indonesia) menyatakan kalau vaksinasi dapat diberikan pada remaja putri mulai usia 10 tahun.

Vaksinasi ini biasanya dilakukan dalam tiga tahap dosis pemberian yaitu bulan ke-0, 1/2 dan 6. Contohnya, vaksinasi I pada bulan Januari, vaksinasi II pada bulan Februari dan vaksinasi III pada bulan Juli. Buat ibu hamil dan berencana hamil sih katanya belum boleh di vaksinasi. Jadi buat yang belum nikah atau yang sudah nikah dan blom planning punya baby ya monggo buat vaksinasi.

Sedihnya, harga vaksinasi ini lumayan mahal. Katanya sih harga dipasaran untuk 3 kali vaksinasi ini bisa habis sebesar 1.8 juta. Dengan hitungan habis 600rb untuk sekali suntik. Onde mande ya bok.. (langsung mikir, ditanggung kantor ga ya bok ). Naah kalau sudah vaksinasi tetap dipantau deh dengan rutin pap smear setahun sekali (idealnya).

Mangkanya, kayanya kita sebagai wanita kudu sadar sedini mungkin yah tentang hal-hal beginian. Apalagi yang sudah nikah. Buat yang belom vaksin, kudu vaksin HPV deh buruan..  Better mencegah ga sih ? Gw sudah antri nih buat vaksin yang di kantor.. 🙂

Sumber : pamflet tentang Kanker Serviks dari GlaxoSmithKline

[thumbnail image]

15 thoughts on “Tentang Kanker Serviks

  1. amalia says:

    nggi,,, katanya vaksin itu baru boleh dilakukan klo belom nikah ato emang lagi ga berencana hamil. Klo vaksin sekarang berarti selama setaun itu harusnya emang lagi ga ada rencana hamil ? begitu kah ?

    [Reply]

  2. anggi says:

    @amalia
    emang begitu sih kayanya.. gak sampai setahun sih say 6 bulan lah periode vaksin tersebut.. better konsultasi ke dokter dulu aja baiknya gimana. Atau savenya sih pap smear aja dulu..

    [Reply]

  3. Dhita says:

    yah, ga bisa buru2 hamil dooong 🙁
    hayo, dhita, pilih mau hamil dulu atau mau bebas dr kanker serviks? fiuuuh…

    [Reply]

  4. Ibeth says:

    Anggi, sepengetahuan aku dari baca2 dan tanya Obgyn, katanya vaksin itu efektif untuk yang belum melakukan hubungan seksual secara aktif.

    Sama, kalau kaya kita vaksin anak kita dengan vaksin cacar air misalnya, itu bakalan efektif kalau si anak belum terpapar virus cacar air (menderita sakit atau melakukan kontak dengan si sakit).

    Makanya aku mau vaksin juga ragu2 :p

    [Reply]

  5. sekar says:

    Mbak Anggi, di kantorku bulan lalu juga ada seminar yang sama. Tapi dari dokter yang berbeda (tempat prakteknya pun beda). Kurang lebih penjelasannya sama, dan alhamdulillah kalau di kantorku vaksinnya ditanggung kantor, daripada kantor menanggung biaya kemo segala nantinya. Bukannya hanya beban biaya, tapi kan juga tenaga dan kesehatan yang merawat pasien.

    Truws, setelah seminar itu ada temanku yang membawa istrinya ke dokter kandungan untuk menanyakan vaksin ini (dia ikutan datang ke seminar ini .. terharu .. bapak-bapak sayang istri :)) Dan di dokternya dia mengatakan bahwa vaksin ini akan lebih efektif jika diberikan ke remaja putri (mulai umur 9 udah boleh), karena usia rentan terkena virus HPV-nya itu justru waktu teenager. (apalagi yang suka berenang) Kalau sudah kepala 2 atau 3 udah ga gitu ngefek.

    Dari seminarnya Anggi, ada info apa jeng? Bener nggak sih opini dokter istrinya temenku ini?

    Salam 🙂

    -sekar-

    [Reply]

  6. anggi says:

    @Ibeth and Sekar
    Kalau kata dokternya better late than never. Menunda vaksinasi berarti menempatkan diri pada risiko terkena infeksi dan menunda kesempatan perlindungan yang dapat diberikan oleh vaksin.

    Soalnya memang benar kalau sebenarnya rentan tertular (tidak dari hubungan seksual) sejak remaja. Cuman kan virus HPV itu beda-beda juga jenisnya say. Kalau masih remaja tertular bisa jadi sudah sembuh dengan sendirinya. Soalnya kan kita waktu itu belum aktif secara seksual. Tapi paparan daya tularnya itu kan bisa berulang ulang kali say. Bagus kalau tertular bisa sembuh sendiri. Tapi kalau tertular lagi bagaimana ? Apalagi setelah kita aktif secara seksual membuat leher rahim kita lebih terekspos dengan dunia luar (*haduhbahasanya). Belum lagi kalau ternyata hubby kita bisa terkena HPV juga di alat kelaminnya dan masuk dengan sukses di vagina kita.

    Jeleknya lagi kata pak Dokter ini, tubuh kita ini belum tentu membuat antibodi untuk HPV ini. Dengan adanya vaksinasi HPV nampaknya bisa membantu membentuk antibodi imunitas di tubuh untuk HPV ini.
    Soalnya virus HPV ini kalo ngendon cukup lama untuk menjadi sel kankernya itu. Bisa 10-15 tahun rentangnya.

    Buat yang aktif secara seksual, sarannya si dokter sih better konsultasi ke dokter kandungan untuk mendiskusikan pencegahan terhadap masalah ini.

    Tapi gw sotoy banget ya ceritain panjang lebar soal ini. Ini informasinya gw dapat dari seminar kesehatan saja ya. Ada baiknya sih, kalau ada dokter yang lihat postingan ini dan bisa kasih penjelasan lebih lanjut lagi.. 😀

    [Reply]

  7. sekar says:

    Thanks Mbak Anngi untuk sharingnya 🙂 He he .. kita tunggu komen yang lain ya, sapa tau aja ada opini. Sowalnya abis temanku cerita itu, kok aku jadi urung mo vaksin ya, padahal ya mumpung ditanggung kan 🙂

    Happy weekend and enjoy your second honeymoon yah! 🙂

    -sekar-

    [Reply]

  8. Justin says:

    Hek? Ada dkantor? Ikut dunk.. Gmana caranya neng..

    1.8jt buat 3x vaksin? Masi kalah ma vaksin IPD buat poko2, yg tak dtanggung kantor 🙁

    [Reply]

    anggi Reply:

    @Justin
    Heh ? Gak ditanggung kantor ? 🙁 Niway ini masih dalam proposal kayanya vaksinasi serviks. Nanti gw kabarin lagi kelanjutannya pigimana ya jeung.. Stay tune.. 🙂

    [Reply]

  9. tari says:

    hmm….taun lalu sih keluarga besarku pada vaksinasi semua nih…
    mulai dari sepupuku yg masih SD smp tante n mama ku yang anaknya udah pada siap punya anak..hehe.. (umurnya diatas 50th).stuju sm anggi….better late than never, mungkin pencegahan berikutnya pap smear juga ya? dan aku baru tau kl perempuan yg blm menikah juga sebaiknya cek pap smear..hehe..
    thx info nya ibu anggi…=)

    [Reply]

  10. riri says:

    hi nggi..
    gw jg tertarik bgt tau bnyk soal kanker serviks,,
    n bbrapa bulan yg lalu ada seminar jg di kantor
    trus gw prnh tanya tentang vaksin n program kehamilan di talk show radio bulan lalu
    dktr obgyn-nya blg kita harus pilih salah satu
    jadi prgm vaksin dulu,,ato prgrm kehamilan dulu
    krn takutnya pas kita prgm vaksin trus kita hamil,,dan keguguran di bulan2 pertama si vaksin itu yg disalahin
    padahal sih sbnrnya vaksin itu aman2 aja
    dan gw jg uda konsul sm dsog..saran dia gw prgm hamil dulu hehe
    yg ptg jgn lupa rajin pap smear..bulan lalu gw uda coba, alhamdulillah hasilnya bagus
    smpt takut si awalnya,,tapi tnyata biasa aja
    trus..trus..1,8jt itu sekali ato 3x suntik?
    krn di kntr gw aja ada prgrm hemat 3jt skali suntik nggi
    dan gw uda tny ke rs bunda sm hermina jg skitar 1jt lebih skali suntik..

    [Reply]

  11. Pingback: Papsmear? Done!!
  12. ana says:

    barusan gogling soal kanker servix, eh nyangkut ke blog ini.

    anw, abis vaksin hpv pertama semalem.. wehehehehe, nyeseeeeek kena 695rb 😀
    tapi gapapa, anggep ini investasi sehat. bulan depan vaksin lagii. tapi katanya sih yang kedua harganya turun.. moga-moga turunnya ga cuman 5rb hehehe..

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.