Denial..

Siapa yang pernah masuk ke dalam fase denial terhadap kondisi dirinya? Aku pernah dan beberapa kali sih. Dan menurut aku wajar. Kalau ada penolakan terhadap suatu kondisi yang kita kira jauh dari ideal. Tapi seberat apapun denial yang sedang kita hadapi, gak bagus kalau terus menerus di hindari. Karena kalau kita gak bisa menerima segala hal yang kita denialΒ  kita gak bisa menerima dan gak bisa mencari penyelesaian masalah tersebut.

Contoh kasus di bawah termasuk contoh kasus yang berat ya, soalnya gara-gara denial satu manusia yang repot satu kampung. Kita panggil saja namanya mbak R. Seumuran sama eike cuman dari dulu memang beda prioritas hidupnya. Singkat cerita mbak R ini hamil diluar nikah dan statusnya waktu itu masih jadi mahasiswi tingkat 2 di suatu universitas swasta. Denial tahap pertama adalah tidak mengakui dirinya hamil, dan tiap bulan masih berpura-pura minta pembalut sama kakak ceweknya. -.-“


Ajaibnya, kehamilan doi selama 9 bulan ini gak diketahui oleh bapak ibunya. Dan tiba-tiba pulang kuliah mengeluh sakit perut, mules gak karuan, dan dibawa ke dokter, eng ing eng si dokter pun bilang “Pak, ini anaknya mau melahirkan”. Jeng.. jeng.. gak sih jadi orang tuanya. Agak aneh juga sih kok bisa anak gadis yang tinggal seatap hamil sampai 9 bulan gak dicurigai sama sekali sama orang tuanya. Keliatan sih kalau orang tua nya kayaknya diem-diem denial juga sama kondisi anaknya yang sebetulnya sudah mencurigakan. Si R sendiri super denial berat kalau dia hamil, dan pura-pura shock begitu anaknya lahir. Buseeet, emang biasee apa gak mens selama 9 bulan. Ceritanya sungguh gak masuk akal kalau di dengar buat orang yang waras. Tapi kenyataannya begitu.

Keluarga R shock pastinya. Dan keluarganya R sibuk cari-cari siapa pelaku ayah kandung bayi nya si R. Si cowoknya pendek, jauh dari ganteng, keluarganya dibawah keluarganya si R (yang sebetulnya juga gak mampu2 banget),Β  pekerjaan gak jelas dan sekolah pun gak jelas. Istilahnya, madesu deh keliatannya (masa depan suram). Udah tau ini cowo bibit bobot bebet nya super gak jelas dan gak ok. Herannya lagi orang tua si R kekeuh mau nikahin si R dengan cowo ini. Contoh denial ke masyarakat sekitar. Denial tahap dua.

Ok deh demi mengembalikan martabat keluarga yang sudah tercoreng moreng (demi denial juga, kalau waras, mana ada sih orang tua cewek yang mau nikahin anaknya sama cowo kaya gitu, kecuali yee cowonya tajir melintir, setidaknya harta warisan bisa buat nyekolahin si bayi sampe S3 lah ya). Di nikahin lah si R dengan cowo itu. R lanjut kuliah (yang kagak jelas kapan selesainya) dan cowo lanjut kerja serabutan gak jelas. R menganggap hidupnya baik-baik saja. Ada orang tua nya yang akan selalu bantuin dia dan bantu biayain si bayi.

Bodohnya ya, udah tau biaya bayi pertama itu dari orang tuanya si R semua (udah pensiunan lagi). Kayak kurang goblok aja, eh hamil aja loh anak kedua. Ok deh, udah resmi kan jadi suami istri jadi boleh lah. Tapi biaya ngurus anak kedua ini dari mana? Secara si cowo resmi jadi pengangguran. Offkors, dari orang tua si R dong dong dong. Kayak hidupnya si R gak kurang pahit aja, cowo nya yang kualitasnya menengah kebawah gitu bisa-bisanya selingkuh sama cewek lain, dan ujung-ujungnya si R ini di cerai.

Tunjangan buat anak-anaknya apa kabar? Tentu mana perduli si cowo ini. R sendiri nasibnya gimana? Kuliah gak selesai. Punya tanggungan 2 orang anak. Dan ujung-ujungnya kerja jadi tukang jaga parkir di mall. Selamat jalan semua harapan orang tuanya yang pengen ngeliat si R kerja di kantoran dan bisa meninggikan derajat keluarganya.

Sedih dan gemas ya baca contoh diatas. Sedih sama orang tua nya si R, tapi juga gemes banget sama kelakuannya si R. Kalau dilihat-lihat ya memang penyebabnya multi faktor. Tapi benang merah antara si R dan orang tuanya adalah mereka sama-sama denial akan kondisi mereka. Faktor-faktornya:

  1. Dari orang tua nya si R yang selalu memanjakan si R dari kecil. Gak pernah marah sama si R. Selalu menturuti perintahnya si R dan selalu mengakomodasi keinginan si R. Entah apa karena faktor ibunya bekerja siang malam sehingga gak ada waktu berkualitas sama si R, sehingga denial nya si ibu menyebabkan dia menuruti semua kemauan anaknya.
  2. Komunikasi keluarga yang tidak terjalin dengan baik. Tipikal orang tua jaman dulu sih. Kalau ada aib jangan dibicarakan. Even dibicarakan antara sesama di dalam keluarga itu. Alhasil mereka sekeluarga hobi bangetΒ  denial sama kondisinya mereka. Gak terbuka dan gak berkomunikasi. Komunikasi tidak lancar diantara keluarga menurut aku membuat tiap orang di keluarga itu tidak terbuka bahkan untuk dirinya sendiri.
  3. Mereka denial karena mereka ingin menghindari konflik. Hal ini yang menyebabkan mereka tidak dapat menyadari dan belajar dari kesalahan mereka. Padahal konflik itu gak selalu buruk. Kita sebagai manusia terkadang butuh konflik, demi kita bisa belajar untuk berkaca pada diri sendiri.

Dan mungkin ada berbagai macam faktor lainnya. Hal ini tentunya bisa jadi pembelajaran buat aku dalam mendidik Aghnan nanti. Komunikasi.. komunikasi.. dan komunikasi penting antara orang tua dan anak. Segala macam hal yang tabu atau aib itu layaknya dibicarakan antara orang tua dan anak. Termasuk di dalamnya penanaman pendidikan seks sejak dini. Mending anak belajar dari kita daripada belajar sama teman dan film p*rn* kan? Beruntung aku lahir di keluarga yang lumayan terbuka. Aku bisa mengemukakan pendapat sama orang tua ku. Dan berusaha berkomunikasi dengan mereka. Tapi jangan salah, di generasi kita juga banyak yang orang tuanya tipe orang tua jaman dulu yang semuanya sistem top down, dan komunikasi gak bisa dua arah.

Denial memang harus dihadapi dan belajar menerima kenyataan, sepahit apapun. Daripada ditunda-tunda, disimpan-simpan dalam-dalam tidak akan membuat semuanya menjadi lebih baik. Semuanya itu hanya akan menjadi bom waktu yang memberikan efek domino jangka panjang yang tidak sehat. Sudah selayaknya kita bertanggung jawab atas segala kesalahan kita. Tapi tidak sekedar bertanggung jawab, namun juga membuktikan bahwa kita bisa memperbaiki keadaan.

Berat ya postingannya kali ini. Ini semua sekedar pengingat ke diri sendiri, dan bagaimana belajar agar tidak seperti itu. Jadi orang tua jaman sekarang tantangannya nggilani. Pergaulan bebas yang tidak bisa terkontrol pun udah jadi momok buat aku. Bagaimana nasib anakku kalau sudah mulai terjun ke masyarakat. Will he do the right thing? Will he know his limit? Will he understand what matter most?

Rasanya pengen ngekepin Aghnan buat di rumah aja dan tetap jadi anak kecil kayak sekarang gak sih? πŸ˜†

20 thoughts on “Denial..

  1. tyas says:

    hhmmmmmfff… they do exist ya, sama kayak kenalan gw pun punya kasus serupa. point2x penyebabnya hampir sama Nggie, terlalu dimanjakan (anak yg ditunggu soalnya). akhir cerita berpisah tp anak2xnya diasuh bapaknya.
    banyak kok gara2x salah pola asuh, tercipta si kiddult (kid adult), yg gak akan pernah dewasa. dan sampai dewasa ortunya tetap bantuin karena mereka takut anak2xnya “jatuh” dan mereka tahu mereka sudah “salah asuh”. ini juga denial ortunya kali ya gak mau terlihat telah “gagal” mendidik anaknya di depan lingkungannya. padahal gak menyembuhkan. πŸ™

    [Reply]

    Mrs.Karimuddin Reply:

    Bener banget sindrom kiddult itu!! Gak akan menyelesaikan masalah kalau apa2 tergantung dengan orang tua.

    [Reply]

  2. mariscka says:

    halow mba mau numpang komen hehe…kalo menurut mba sendiri mestinya R dan ortunya bersikap gimana sewaktu hamil anak pertama?
    soalnya mungkin aja bs jadi masukan buat yang bermasalah kurleb sama, kalo aku dipikir2 diposisi R bingung juga soalnya maju mundur salah tapi setidaknya yang bersangkutan bertanggung jawab dan sedia kerja apa aja, coba kalo anak2nya ditaro dipanti asuhan atau dikasih org lain krn merasa ngga sanggup lg bertanggung jawab… mungkin juga bkn sekedar denial mba, mungkin jg ada pengharapan pd sosok ayah si bayi, kurangnya pengetahuan kalo akte lahir bs dibuat cukup dgn nama ibu, takut anak ngga pny sosok ayah dsb
    kalo berada diposisinya aku juga clueless sih πŸ™

    [Reply]

    Mrs.Karimuddin Reply:

    Humm aku bilang sih itu gak bertanggung jawab ya. Dia melalaikan kewajiban menyelesaikan sekolah yang sudah dibayar mahal2 sama orang tuanya yang akhirnya dia cuman bisa dapat kerjaan ala kadarnya. Apa penghasilannya bisa menghidupi dua anak setelah diceraikan tanpa tunjangan jelas sama suaminya? Offkors tidak. Yang ada malah menambah beban sama orang tuanya lagi. Kalau aku dalam posisi dia. Sekali berbuat salah jangan berbuat kesalahan fatal lagi lainnya. Yang ini susah dihindari kalau masih dalam fase denial dan gak mau belajar dari kesalahan terdahulu. Selesaikan kuliah selama orang tua masih bisa bantu. Cari kerja agar bisa menghidupi anaknya yang pertama. Dan jangan bikin anak lagi apalagi kalau semua hidup ya ditanggung orang tuanya. At least pake KB lah. Anak kan gak dilahirkan hanya untuk disia-sia. Harus dirawat dan didik dengan kemampuan kita yang terbaik.

    [Reply]

  3. resna says:

    Postingan ini ngena bgt d aku ttg denial thd kondisi qt . . . Thx for remind me πŸ™‚
    Mslh punya anak tanpa perencanaan dan kmampuan ekonomi ini byk bgt kyknya d indonesia. Udh mah sama2 ga punya perencanaan finansial yg bgs krna makanpun jg ssh kali tp ttp rajin produksi anak. Iya kl bs mendidik tp kl ngasi perhatian kecilpun ssh gmn yg lbh bsrnya yah. . .

    [Reply]

    Mrs.Karimuddin Reply:

    sama-sama Resna.. πŸ™‚ Iya emang banyak banget yang kayak gitu ya πŸ™ Padahal kan punya anak kosekuensinya besar. Gak cuman dari segi kecukupan materi tapi bagaimana kita bisa ngasih perhatiannya.. Ini juga jadi pengingat buat diri sendiri juga.. πŸ™‚

    [Reply]

  4. rini says:

    Hi Anggi, salam kenal ya. Baca tulisan ini dalam dan ngena banget ke aku. Soalnya beberapa tahun yang lalu aku juga ada si posisi R. Masih kuliah dan hamil. Rasa malu yang saya alamin luar biasa. Belum lagi society punishment yang saya hadapi. Berat banget. Tapi somehow aku setuju sama kata mbak diatas. Disatu sisi aku rasanya ingin hidup dalam denial nya aku. Tapi aku sadar kalau aku harus bangkit demi calon bayiku.
    Aku memilih untuk tidak menikah dengan bapaknya anak saya demi berbagai pertimbangan. Walau kesannya ekstrim menanggung semuanya sendiri tapi menurut aku pada waktu itu, menikah dengan alasan yang salah hanya akan membuat semuanya jadi lebih salah lagi.
    Alhamdulillah orang tua mendukung keputusan ku. Dan semenjak aku selesai kuliah aku berusaha hidup mandiri hidup dengan anak saya. Aku gak bilang hidup aku bahagia terus. Setiap hari penuh perjuangan sebagai single parent. Tapi memang kita harus bangkit dari denial kita. I learn to deal with my problems. And I embrace it.
    Nice post mbak dan salam kenal πŸ™‚

    [Reply]

    Mrs.Karimuddin Reply:

    Waw thanks for sharing ya mbak. Aku suka banget dengan prinsip mbak yang “menikah dengan alasan yang salah hanya akan membuat semuanya jadi lebih salah lagi”.
    And yes, we must deal with our problems. And like you said, like it or not we must embrace itu.
    Salam kenal juga yaa.. πŸ™‚

    [Reply]

  5. Rinda says:

    Ih mbak ini sama banget kaya cerita temen SMA ku dulu. Agak kasihan ya sebetulnya. Terlalu dimanjakan orang tua sehingga seperti itu. Yang menanggung beban ya orang tuanya lagi. Disaat masa tua orang tua tinggal menikmati masa tua dan main-main sama cucu. Ini dipaksa buat menghidupi cucunya.

    [Reply]

  6. Elisa says:

    Fenomena klasik kasus MBA (married by accident) juga sih ini. Nikah bukan karena basis yang kuat. Ditambah desakan ekonomi dan penyesuaian dengan pasangan dan mungkin campur tangan dari orang tua si cewek jadi bikin semuanya tambah runyam.
    Eh salam kenal ya mbak, silent reader yang gatel pengen ikutan komen πŸ™‚

    [Reply]

  7. Mardy Roesli says:

    Sebetulnya bagus ya kalau si R masih mau kerja apa aja demi menghidupi anaknya. Cuman ya itu, bener kata mbak, akan miris karena seharusnya dia bisa lulus kuliah dan bisa cari pekerjaan yang jauh lebih baik.
    Btw jadi inget si papa mama baca mbak nulis yang bibit bobot bebet. Dari dulu selalu wanti-wanti begitu. “cari pasangan yang jelas bibit bobot bebet nya” . Jadi kangen. Maklum jadi orang rantau ikut suami dinas. πŸ™‚

    [Reply]

    Mrs.Karimuddin Reply:

    Embeer si mama dulu juga bawel banget soal bibit bobot bebet. Kesannya sepele cuman dipikir2 emang ya itu penting diperhatikan ya.

    [Reply]

  8. liactk says:

    anggi kenapa ceritanya mirip sama seseorang hehehe,,,, Iya gw jg pernah menyaksikan kejadian yang serupa. Yah emang at the end semua salah semua ga salah sih ya atau lebih tepatnya semua ga mau jadi yang salah,, orang tua malu disangka ga bisa ngurus anak, perempuan malu ga bisa jaga diri, laki-laki malu kalo ga tanggung jawab padahal sebenernya ga mau kawin… weeewww…

    [Reply]

    Mrs.Karimuddin Reply:

    haha ini versi twistednya Li… πŸ™‚ Iya bener banget kata loe semua gak mau jadi yang salah. Atau malah semua malah saling menyalahkan satu sama lain. Ya semoga yang kita saksikan kita bisa belajar ya Li semoga gak kejadian di kita.. πŸ™‚ Sun buat Ghiffari yg makin pinter tiap hari.. :-*

    [Reply]

  9. PoppieS says:

    Anggiii, aduh gw kalo bisa juga pengen deh kekepin anak di rumah aja, cuma ya manalah mungkin. Ga bakalan bagus juga buat mereka.

    Kayanya tantangan jadi orangtua pun makin dinamis ya.. Ini gw baru kepikiran tadi pagi. Mungkin jaman dulu, ortu kita berusaha bgt spy kita gak sex before married. Tp kalo “MEMAKSA” diri untuk jadi realistis, terpaksa melihat kalo banyak bgt jaman skr yg udah melakukan itu sebelum waktunya. Mungkin tantangan kita adalah gimana spy si anak mengerti mana yg diharapkan dan mana yg gak diharapkan… Tapi kalo dengan cara2 yg dulu dilakukan ortu kita ke kita mungkin udah gak terlalu aplikabel lg, krn masanya udah beda.. Jadi mungkin kita mesti lebih ke membangun values-nya dia sendiri yah, tapi tetap realistis… ADEH AKU PUSIANG.. Hihihihi..

    [Reply]

    Mrs.Karimuddin Reply:

    Iyah jaman skrg emang beda. Ga bisa kayak ortu kita dulu yaa. Bener banget harus realistis dan bener banget kalau anak harus mengerti apa yg diharapkan sama mereka. Dan buat gw yang penting mereka ngerti konsekuensi berbuat A, B dan C secara jelas. πŸ™‚

    [Reply]

  10. dee says:

    huhuu..baru baca dan langsung keinget sama 2 orang sepupuku yang MBA. Sekarang? satunya cerai satunya ditinggal. padahal yang satu ibunya merid by accident jg.. kok ya kok kejadian ke anaknya lg πŸ™
    Faktornya mungkin krn dikeluargaku juga menganut komunikasi 1 arah (top down), dan aib is aib. not to discussed or even shared.
    Salam kenal…thanks ya postingnya.. mengingatkan saya yg punya babygirl 11 mo. Being parent ain’t no easy πŸ™‚

    [Reply]

    Mrs.Karimuddin Reply:

    Kayaknya rata2 semua keluarga jaman dulu menganut komunikasi 1 arah ya. Aib itu aib gak boleh dibicarakan bahkan diucap.
    Salam kenal juga ya.. Yup, being parent itu emang tantangannya luar biasa πŸ™‚ Tanggung jawab dunia akhirat soalnya..

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.