An Expert Help

Bear with us.. This post is going to be long.. We need to write this summary down for our reminder 🙂

Jadiii Sabtu kemaren kita berdua datang ke Pesat 13 Jakarta. Tentu ya, si mas sebagai peserta teladan (krn selalu datang pertama kali) dan aku bantu-bantu jadi panitia. Sedih juga sih cuman bisa bantuin sampai sesi 2 aja. Tapi yang penting si mas wajib hadir sampai sesi 5 yak. 😀

Nah topik kemaren itu lumayan seru. Bicara soal Common Problems 1: Batuk Pilek, TBC pada anak dan Pendidikan Seks pada Anak. Topik 1 dan 2 biasa ya. Yang ketiga ini yang seru. Apalagi pembicaranya Toge Aprilianto. FYI, gw baru tau nama pak Ge ini ya waktu anak-anak panitia pesat heboh ngomongin. Secara eike member sangat pasif milis pesat, apalagi gak ikutan bbg an anak-anak pesat. Pasif deh ya. Jadi waktu mereka heboh ngomongin soal Pak Ge, aku clueless.

Yang aku tau dia itu psikolog. Punya milis salingbelajar di googlegroups (yang katanya lagi hits banget). Basisnya di Surabaya. Dan sering diundang ke Jakarta buat bikin private session buat para orang tua di Jakarta. Nah biasanya konsultasi pribadi ini laris manis kayak kacang goreng. Biasanya pas sesi pribadi, Pak Ge ketemuan sama orang tua di salah satu playground di Jakarta. Anaknya akan di observasi selama setengah jam (tanpa anak tau kehadiran Pak Ge). Abis anak di observasi baru deh diskusi sama orang tua selama satu setengah jam. Tujuannya sih untuk observasi karakter si anak itu kayak gimana (perilaku, behaviournya, dll). Lalu mencoba menghubungkan dengan issue-issue (concern) yang diangkat oleh orang tuanya tentang si anak.

Dengernya sih menarik. Cuman berhubung gak pernah dengar dan ngeliat milisnya jadi ya cuman ber ooo dan aaa saja. Sampeee ya dengerin Pak Ge waktu ngisi sesi di milis sehat kemaren. Sungguh aku dan mas tergampar-gampar dan langsung diskusi seru tentang apa yang dibahas Pak Ge . Jujur kita berdua emang selalu penasaran tentang karakternya Aghnan. Apakah Aghnan itu sebetulnya memang yang seperti di lihat? Kita berdua selalu ngerasa kita perlu tau nih karakter kepribadiannya Aghnan (secara alami) itu seperti apa sih. Sehingga kita tau gimana cara menghadapi dan mengarahkannya.

Apalagi aku selama ini dibayang-bayangi issue gimana ini nanti bakal ninggalin Aghnan ke Boston (sebelum Aghnan nyusul tahun depan). Apa iya Aghnan bakal jadi benci sama ibunya? (seperti yang diceritain sama temen gw tentang temennya yang ninggalin anaknya sekolah). Sungguh poin yang terakhir ini bikin gw menggalau gak karu-karuan. PARAH. Tanya aja si mas yang jadi korban kegalauan gw pagi-siang-malam. Rasanya mengingat 2 bulan lagi berangkat aja hati kayak diperas-peras. Satu-satunya yang bikin gw waras cuman inget Winter Holiday (waktu dimana Aghnan akan visit) dan Summer Holiday (waktu dimana Aghnan akan stay sampe kuliah selesai 😀 ). So yes, rasanya itu horrible banget. Jadi gw gak butuh loe loe yang gak kenal gw banget banget buat nge judge kalo gw itu ibu yang egois dan gak sayang anak tauk! *kalemkalemkalem* *markedasspam*

Anihoo *senyummanis* karena aku sama mas antusias banget dan melihat memang ada kebutuhan di kita, jadinya aku mulai deh kasak kusuk sama temen panitia yang lain gimana sih biar bisa dapat sesi private sama Pak Ge. Apalagi kemarin itu terakhir Pak Ge ke Jakarta sebelum Puasa dan Lebaran. Bakal buka sesi lagi abis Lebaran denger-denger. Dapat info dan kontak mbak Ria dari Dita *ciumciumDita*. Langsung deh sms mbak Ria buat tanya jadwal kosong.

Entah memang udah rejeki dan jalannya kita dapat jadwal kosong di hari Pak Ge terakhir di Jakarta. Kita bener-bener pasien terakhir. Karena mendadak dangdut jadi ketemuannya di rumah kita aja. Katanya lebih baik sih jadi anak bisa bermain natural dan terlihat kesehariannya gimana.

Begitu sampai ke rumah Pak Ge langsung deh observasi Aghnan. Ngeliat Aghnan main dari jauh sambil sesekali taking notes. Setengah jam an lah ya kurang lebih. Abis diobservasi langsung deh diskusi bertiga dengan si mas. Gak pake basa-basi, Pak Ge langsung menjawab issue utama yang dilontarkan sama kita perihal bagaimana nanti Aghnan kalau ditinggal aku sekolah. Beliau bilang:

Kalau ngelihat karakternya Aghnan, gak akan jadi issue jika ibu mau tinggal dia sekolah. Karena buat anak seperti dia, yang dilihat bukan siapanya yang akan menemani, tapi melainkan siapa pun yang menemani dia selama ditinggal ibu orang tersebut harus tepat janji (omongannya bisa dipegang dan bertanggung jawab).

Belum sempat bertanya kok Pak Ge bisa tau begitu, Pak Ge langsung menyarankan untuk aku komunikasi rutin ke Aghnan minimal 2 hari sekali. Dan minimal dengan telepon, bukan sms (yaeyalah Pak si bocah kan blom bisa baca juga kalo smsan). Lebih baik pake video call karena Aghnan itu anak yang orientasinya auditif dengan verifikasi visual. InsyaAllah bisa dipenuhi. Cium-cium Skype dan Facetime yaaa 😀

Kemudian Pak Ge juga menyarankan (dia bahkan bilang 2 bulan lagi itu kemepetan), buat aku simulasi jauh-jauhan sama anak lebih sering (baca: nginap beberapa hari diluar). Jadi anak terbiasa dengan ketidakadaan aku. Sesungguhnya kalau tau ini 2 bulan yang lalu akan dijadikan alasan buat honeymoon lagi sama si mas. Tapi ya menjelang pergi gini aku malah pengen puas-puasin sama si bocah.

Berhubung sarannya yang pertama gak memungkinkan, kemudian kita diajarin untuk mensimulasikan konsep lama dan menunggu untuk Aghnan. Sekaligus latihan simulasi kecewa juga. Oh iya, ini salah satu konsep menarik yang dibilang Pak Ge. Anak itu harus latihan simulasi kecewa agar dapat menerima kekecewaaan dengan penyaluran yang aman. Seperti anak harus dibiasakan untuk memilih (karena hidup memang penuh dengan pilihan kan ya). Dan apapun yang dia pilih itu dia harus siap menerima akibatnya dan mungkin kekecewaan yang mungkin muncul dari pilihannya itu.

Sebetulnya bisa di simulasikan di kehidupan sehari-hari. Seperti misalnya makan yoghurt. Aghnan harus milih mau yoghurt rasa strawberry atau lychee. Kalau biasanya pasti mau dua-duanya, dia harus memilih salah satu. Biasanya kekecewaan yang muncul inilah yang kita observasi. Apakah anak mengekspresikan kekecewaannya dengan cara yang aman atau bahaya (bisa mengancam orang lain). Atau yang familiar dengan terrible two. Yah biasanya tantrum itu salah satu bentuk ekspresi kekecewaan anak.

Goal kita sebagai orang tua adalah bagaimana anak bisa menerima kekecewaan dengan aman. Dia bisa bete, sebel, tapi tidak tantrum. Biasanya ini terbentuk pada saat anak umur 3 tahun. Kalau kata Pak Ge, Aghnan sudah bisa menerima kekecewaan cuman hasilnya masih belum stabil. Kadang aman kadang ya gitu deh.. 😆 Wajar sih untuk seusia Aghnan, yang penting ketika Aghnan mengalami kekecewaan yang hasilnya nyerempet bahaya kita tau apa yang harus kita lakukan.

Okeh abis menjawab kekhawatiran Pak Ge langsung membahas karakter Aghnan dari hasil observasi dia. Sesungguhnya tiap Pak Ge ngomong pengen gw stop, selak sambil tanya “kok bisa tau begitu sih pak”. But then again, kalau tanya begitu agak oon ya. Secara dia psikolog yang memang makanan sehari-harinya mengamati behaviour anak. :lol:.

Setelah bicara soal membiasakan memberikan pilihan dan simulasi rasa kecewa ke Aghnan, Pak Ge bilang kalau Aghnan ini adalah anak yang Auditif dengan verifikasi Visual. Jadi dia itu belajar sesuatu lebih cepat melalui indra pendengar dia. Jadi inget apa yang pernah aku bicarain di post ini beda-beda tipe belajar masing-masing anak. Mangkanya dia kadang seolah-seolah kalau diajarin suka gak konsentrasi atau matanya kemana-mana tapi ditanya ulang bisa jawab. Jadi itu proses belajarnya dia. Menerima informasi dominan dari kuping tapi butuh verifikasi visual. Bener-bener campuran kita berdua secara aku dominan Auditif dan si mas dominan Visual 😆

Kemudian menurut pak Ge lagi, value yang penting buat Aghnan adalah orang yang tepat janji. Jadi threat terbesar Aghnan adalah orang yang suka bohong dan tidak tepat janji (ini emaknya banget). In return karena buat dia orang yang tepat janji (bertanggung jawab) itu penting maka dia pun akan menghargai value tersebut untuk diaplikasikanke dirinya sendiri.

Kalau bicara tipe anak Lokomotif atau Gerbong (tipe lokomotif biasanya anak yang punya inisiatif, tipe gerbong anak yang ikut laksana gerbong), ternyata Aghnan tipenya Gerbong. Sekilas memang seperti Lokomotif, namun dia sebetulnya Gerbong. Anak tipe seperti ini emang downside nya bisa gampang ikut-ikutan anak-anak lain. Apalagi ketemu anak yang tipenya lokomotif pasti langsung ikut-ikutan lokomotif itu. Tapi kalau kita bisa mengajarkan dia tentang benar dan salah, maka dia bakal jadi gerbong yang gak gampang ikut-ikutan. Dia akan milih lokomotif mana yang akan membawa dia ke jalur yang dia inginkan.

Anak tipe gerbong ini perlu punya timetable (daftar aktifitas) yang baku buat kegiatan sehari-harinya. Soalnya dia mungkin tau tujuannya cuman gak tau gimana mencapai tujuannya itu. Bukan berarti anak gerbong gak punya inisiatif sama sekali.  Bisa, tapi gak senatural anak-anak dengan karakteristik lokomotif. Again ini adalah template karakteristik. Udah dikasih dari sononya begitu.

Kemudian Aghnan juga tipe generalis. Katanya Pak Ge dia gak akan mendalami sesuatu sampai detil dan ahli. Yang penting untuk anak tipe seperti ini adalah cukup bisa. Kesannya jadi gak bisa termotivasi untuk jadi yang terbaik ya. Tapi again kata Pak Ge, namanya perilaku itu tidak bisa dilihat secara parsial. Harus sepotong-sepotong. Kayak misalnya untuk kasus Aghnan, walaupun dia itu tipe gerbong dan generalis, tapi dia itu orientasinya benefit (cari untung). Jadi motivasi dia untuk sukses bisa di booster dari sisi benefit dan juga dari sisi bagaimana dia sangat menghargai value tepat janji.

Emosinya pun cenderung ke dalam (jadi bukan what u see is what u get). Tapi untungnya bukan yang cenderung agresif. Jadi masih aman. Terus apalagi ya? Humm coba ayah ditambahin kalau ada yang kurang. Yang jelas sih mendengar satu-satu analisis Pak Ge bikin aku berkali menggumam “ih itu gw banget” atau “ih itu mah ayah banget”. Ya emang Aghnan bener-bener anak campuran berdua. 🙂

Semuanya ini bikin aku sama mas tercerahkan. Emang sih parental instinct itu tetap penting. Tapi dengan adanya bantuan dari Pak Ge ini, kita jadi bisa ngelihat sudut pandang yang berbeda tentang Aghnan. Insyaallah dengan lebih memahami karakteristik perilaku Aghnan kita bisa memahami dan mengarahkannya lebih baik lagi.

Banyak peer nih aku sama mas abis sesi sama Pak Ge. See, emang jadi orang tua itu rempong bin ribet. But we’re lovin it.. 😀

Notes: Berhubung banyak yang nanya tentang tarif private session dengan Pak Ge ini sekalian aja aku sharing disini. Tarif nya itu 350.000 IDR per anak per sesi. Kalau misalnya para eyang mau ikut diskusi juga gak dikenakan charge. Yang dilihat jumlah anak yang diobservasi. Dan untuk informasi lebih dalam lagi bisa cek kesini ya https://sites.google.com/site/gesblu/ 🙂

24 thoughts on “An Expert Help

  1. lulu says:

    Ini tulisan ke2 yang bikin aku terkagum2 dari Anggi.
    Meninggalkan anak untuk kurun waktu yang lama, kurasa, akan berat untuk siapapun itu, apalagi ibu ya…dengan ini lebih ringan dong yah galaunya 🙂
    Selamat sekolah Anggi

    [Reply]

    Mrs.Karimuddin Reply:

    Iya mbak, insyaAllah jadi lebih lega. Walau galau merindu akan come and go datangnya *apalagipasmasa2PMS* Tapi insyaAllah bisa. Mohon doanya ya.. 🙂

    [Reply]

  2. Ina says:

    Mbak Anggie, salam kenal…aku belum punya anak sih tapi penasaran dengan cerita Mbak Anggie di atas. Menurut Pak Ge, karakter anak itu bawaan dari lahir lebih dominan, apa lebih banyak terbentuk dari lingkungan dia besar? Apa karakter juga faktor keturunan? (Kayak Mbak bilang wah ini gue banget wah ini ayahnya banget).
    sukses sekolahnya Mbak, semoga ngga kerasa tau2 Aghnan uda nyusul. Sepupuku juga pernah ditinggal ibu-nya sekolah koq Mbak 2 tahun. dekat sih Surabaya-Madiun. Tapi ok2 aja koq dan tetep deket sama ibunya

    [Reply]

    Mrs.Karimuddin Reply:

    Kalau menurut Pak Ge karakter dasar itu alamiah. Artinya udah template yg diturunkan dari ayah, ibu dan para eyang (baik dr pihak ayah dan ibu). Template ini udah dr sananya jadi gak bisa diutak atik lagi. Kalau udah tau templatenya gimana kita jadi bisa tau bagaimana mengembangkannya kan 🙂

    [Reply]

    Mr.Karimuddin Reply:

    Pengen ikut nambahin. Untuk karakter anak biasanya sudah ada faktor alami. Soal lingkungan itu yang membawa dia ke arah persepsi, kebiasaan, etika, dan hal boleh-tidak boleh.

    Contoh: Kalau orang tua/lingkungan mengajarkan melepas alas kaki saat masuk rumah itu sopan, maka dia akan terbiasa dengan hal itu.

    Beda dengan anak yg tidak pernah diajarkan soal itu, sampai besar ya wajar kalo buat dia bukan issue jika masuk rumah tanpa melepas alas kaki.

    [Reply]

  3. netta says:

    TFS ya nggi, baru tau bgt nich gw
    berguna dech infonya…
    btw boleh tau kah brp sich bayar pak Ge buat private session ini *jadi pgn*? email gw ya say, thanks *mmuach*

    sukses kuliahnya ya nggi 🙂

    [Reply]

    Mrs.Karimuddin Reply:

    Thanks yah. Udah gw email ya say 🙂

    [Reply]

    MrsRaharjo Reply:

    mba anggi, aku seneng bgd baca postingan mba anggi kali ini, hebat banged yah mba si pak ge itu, ak jd kepengen utk private session sm pak ge krn anakku di umur hampir 3thn ngomongnya belum banyak, and agresif bgd, kalo boleh, mnt di email contact person’nya pak ge mba sekalian sm tarif private session, maaf ngerepotin ya mba, makasih banyak

    [Reply]

  4. Shintano says:

    nggi penasaran, jadi pak ge observasinya gimana? Aghnan main sama ayah bundanya atau dia main sendirian? atau Pak Genya ikutan mainan? abis dari ceritalo canggih banget ya kalau dia nyimpulin Aghnan ga suka dibohongin cuma dari main setengah jam. Amzed lho gw. haha kamseupay

    [Reply]

    Mrs.Karimuddin Reply:

    Dia main aja kayak sehari-hari. Pak Ge nya cuman observasi dr luar gak ikutan main. Nah itu juga, gw juga sama2 kamseupay bok. Nanya berkali2 ke si mas. Cuman ya mgkn emang karena udah pengalaman juga kali ya jadi bisa tau. Dan setelah kita pikir2 dan telaah lagi semua yang diomongin bener loh. Makin amazed gw 😆

    [Reply]

    Shintano Reply:

    ahh canggih malih. salah banget gw terlalu napsu ikutan Pesat, jadi gw ikut yg Pesat Tangerang. padahal sabaran dikit dibuka yg Jakarta ini yaa.. senengnya Pak Toge yg ngajar. gw cuma bisa penasaran siapa sih nih Pak Toge yg heboh di milis pas Pesat Surabaya kalau ga salah. bravo panitia Pesat 13 Jakarta =)

    [Reply]

    Mrs.Karimuddin Reply:

    ih hidung jadi kembang kempis 🙂 Iyah gw juga tadinya penasaran siapa sih ini Pak Toge ini kok heboh banget. Ternyata emang beneran keren. Join milisnya aja ya 🙂

  5. Nyayu says:

    waw postingannya keren, mataku jadi terbuka nih…
    TFS yaa anggi
    btw selamat sekolah yaa, walau galau2 gimana karena jauh dari anak tapi yakinlah karena kita selalu berdoa minta yang terbaik pada Allah, insya Allah ini adalah yang terbaik, Amin…

    [Reply]

  6. mita munaf says:

    mba, aku selama ini silent rider nya blog mba anggi. hehe temen kuliahnya raman di prasmul:p btw mba boleh minta cp utk private session sm pak toge di jkt dan brp biayanya? pgn bawa si kembar observasi sm beliau,berantem trs berdua huhuhu
    email aku di herninta.pramitasari@gmail.com ya mba anggi. thanks a lot:)

    [Reply]

    Mrs.Karimuddin Reply:

    biaya sama informasinya ada di paragraf terakhir diatas.. Di cek dulu ya..

    [Reply]

  7. veranita says:

    Hi,
    Saya tertarik nih pengen private session sama pak ge, tolong dunk saya ud cari info ke mana mana soal seminar ato private sessionnya pak ge tapi kgk ketemu hiks hiks, tolong dunk di emailin gimana bisa hubungi pak ge? Thx y

    [Reply]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.