Mimpi Hamil..

Hokaaayy malam tadi kebangun gara-gara mimpi hamil lagi. Kemarin malam juga mimpi hamil lagi. Dan sahabat aku beberapa minggu yang lalu mimpiin aku hamil lagi. Weleeehh kok bisa bertubi-tubi begitu ya. Sesungguhnya gak pernah percaya kalau mimpi ada artinya. Tapiii kalau dua malam berturut-turut aku mimpi hamil terus jadi ngeri eike.

Hihihi bukan kenapa-napa sih. Pengen buangeeett punya anak lagi dan kasih adek buat Aghnan. Cumaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaannnnnnnnnnn (panjang ya cumannya), belum siap euy kalau sekarang. Soalnya Aghnan lagi menantang banget. Rasanya ingin perhatian tercurah full disaat Aghnan umur 2-3 tahun lagi. Jadi emang pengennya sih bikin adek buat Aghnan pas Aghnan umur 4 tahun. Jadi ya dua tahun lagi kali ya. Dan pengennya sih kasih adek cewek buat Aghnan.

Walau sesungguhnya aku percaya Allah tau yang terbaik buat kita. Kalau emang Allah bilang hamil sekarang, yo wis jadilah hamil. Siap gak siap pasti disyukuri. Jadi galau pagi-pagi, apa udah saatnya cari test pack? 😆

Denial..

Siapa yang pernah masuk ke dalam fase denial terhadap kondisi dirinya? Aku pernah dan beberapa kali sih. Dan menurut aku wajar. Kalau ada penolakan terhadap suatu kondisi yang kita kira jauh dari ideal. Tapi seberat apapun denial yang sedang kita hadapi, gak bagus kalau terus menerus di hindari. Karena kalau kita gak bisa menerima segala hal yang kita denial  kita gak bisa menerima dan gak bisa mencari penyelesaian masalah tersebut.

Contoh kasus di bawah termasuk contoh kasus yang berat ya, soalnya gara-gara denial satu manusia yang repot satu kampung. Kita panggil saja namanya mbak R. Seumuran sama eike cuman dari dulu memang beda prioritas hidupnya. Singkat cerita mbak R ini hamil diluar nikah dan statusnya waktu itu masih jadi mahasiswi tingkat 2 di suatu universitas swasta. Denial tahap pertama adalah tidak mengakui dirinya hamil, dan tiap bulan masih berpura-pura minta pembalut sama kakak ceweknya. -.-“

Continue reading

Pempek Palembang

Yang follow twitter aku pasti ngeh kalau gw dan si mas DOYAN banget sama Pempek Palembang. Udah paling juara kalau dikasih Pempek itu langsung bikin hati ayem. Padahal kita berdua gak ada turunan Palembang. Sampai saking doyannya itu cuko bisa kita sruput sampai tandas. Mungkin di kehidupan terdahulu gw orang Palembang kali ya.. 😆

Tiap minggu udah pasti mesti kudu mampir Pempek 161 (favorit kita). Menu andalan, pempek kapal selam buat si mas. Sama pempek lenggang buat aku. Tambahannya kalau lagi di 161 itu mesti pesen Mie Celor yang endeuus. Dan pulangnya bawa oleh oleh kerupuk ikan buat cemilan si bocah. 😆 Si bocah pun doyan sama Pempek. Pernah kapan sarapan aku goreng lenggang, camur parutan wortel di adonan Lenggang sukses tandas sama dia.. 😆
Continue reading

Peristirahatan Terakhir

Setelah 2 tahun berjuang melawan kanker otak, akhirnya kemarin Om ku menghembuskan nafas terakhirnya. Sesungguhnya hal tersebut sudah di prediksi, namun sebagai keluarga tentunya kita tidak boleh berhenti berharap. Apalagi mengharapkan keajaiban dari Allah. Namun, Allah sudah berkehendak dan meminta beliau untuk berpulang kepada Nya.

Kemarin siang ditengah-tengah rapat, aku ngelirik ada missed call berkali-kali dari si mama. Sampe akhirnya baca chatnya si mas bahwa ternyata si Om sudah meninggal jam 10.00 pagi. Selesai rapat akupun langsung pergi ke Siloam MRCCC dan langsung menuju Mortuary nya. Tadinya di mobil masih bisa ketawa-ketawa sama si mas kayak gak ada apa-apa. Mungkin itu denial nya aku aja ya. Karena begitu ketemu si Bulek, aku sama adekku langsung meluk Bulek dan Blaaaarr.. Tumpah air mata kita. Aku pelukin si bulek erat-erat dan bulek pun bilang seperti ini..
Continue reading

Emak Militer..

Makin hari si bocah makin “kreatif” deh, apalagi menjelang 2 tahun ini. Fase yang semua orang bilang lagi menantang-menantangnya pun sudah di depan mata. Daaaann percikan-percikan challenging two pun mulai berasa akhir-akhir ini. Kayak misalnya, udah mulai bisa ngeyel (sok taunya kadang gak kuat, antara gemes, gengges sama pengen ketawa), terus lagi hobi bilang “NO!!” bahkan untuk rutinitas yang biasa kayak mandi sama ganti baju, dan ditambah dengan kejailan dia ngerjain Bunda nya.

Contoh yang terakhir itu kayak minta pup, udah lama ditungguin gak keluar juga pup nya tapi dia masih bilang “ee.. ee..”. Ditanya “udah kali ya nak”.. Dia nyautin “lom nda.. ” Tapi gak lama kemudian dimukanya senyum jaiil banget disambung sama ketawa ngikik. Ternyata gw dikerjain.. -.-” Padahal kan lumayan pegel tuh jongkok megangin dia di toilet. Soalnya dia gak mau pake yg tempat duduk khusus anak.
Continue reading