Workshop Hypnoparenting Part 4: Temper Tantrum Pada Anak

..lanjutan dari part 3 Hypnoparenting..

Fiuuh akhirnya sampai juga di part 4 dan terakhir ini. Jangan bosen ya bacanya. Yang part 4 ini mau cerita tentang anak Temper Tantrum dan bagaimana cara mengatasinya.

Temper Tantrum itu apa sih? Temper Tantrum itu adalah ledakan emosi anak-anak yang diwujudkan dalam bentuk teriakan, tangisan kencang, bahkan sampai berguling-guling atau parahnya bisa sampai menjedot-jedotkan kepalanya ke tembok. Dan ini adalah suatu kondisi yang umum terjadi pada anak-anak berumur 1-4 tahun. Jadi ya memang salah satu fase yang harus dilewati oleh semua orang tua.

Temper Tantrum tiap anak pun kadarnya beda-beda. Ada yang paling cuman menangis dan merengek. Tapi ada juga yang ekstrim seperti menjedot-jedotkan kepala atau guling-gulingan. Biasanya sih temper tantrum akan sering muncul pada anak yang sifatnya keras, hiperaktif, emosi yang mudah berubah-ubah atau beberapa anak yang kurang dapat beradaptasi dengan lingkungan baru.

Biasanya sih temper tantrum bisa dipicu oleh apapun terlebih lagi jika anak dalam kondisi lapar, mengantuk dan capek.

Kita harus hati-hati menghadapi anak tantrum. Soalnya respon kita terhadap anak tantrum akan menentukan sifat dia ke depannya. Jadi jangan sampai salah treatment .Β Untuk menghadapi anak yang sedang mengalami tantrum, mbak Eva memberikan langkah-langkah efektif sebagai berikut:

1. Sabar

Kesabaran memegang kunci terpenting dalam menghadapi temper tantrum anak. Jika anak sedang tantrum itu berarti anak sedang dalam kondisi gelombang otak Beta yang mana anak tidak bisa kompromi. Jadi kalau kita menghadapi tantrum dengan cara marah, hanya akan memperparah suasana saja. Kita harus sabar dan menunggu sampai dia tenang.

2. Konsisten

Kita harus teguh dengan pendirian kita. Misalnya: jika anak mengamuk karena ingin dibelikan mainan baru padahal baru kemarin dibelikan mainan, kita jangan menyerah pada pendirian kita. Biarkan saja dia mengamuk tetapi kita tetap tidak akan menuruti keinginannya. Kita harus siap untuk menerima konsekuensi atau mengorbankan hari berlibur jika sampau terbentur masalah ini. Harus dilakukan demi mendidik anak. Kita harus tunjukan ke anak bahwa kita adalah suatu figur otoritas yang perlu dia hormati. Jika kita sampai “kalah” dalam menghadapi anak tantrum, ke depannya anak akan menganggap kelakuan dia saat tantrum adalah suatu senjata untuk mendapatkan keinginan dia.

3. Transisikan gelombang otak

Seperti yang sudah saya bilang, pada saat anak tantrum, gelombang otak mereka langsung naik ke Beta yang menunjukkan bahwa anak pada saat tantrum tidak bisa diberikan masukan atau sugesti apapun selama ia masih mengamuk dan gelombang otak masih di Beta. Tunggu sampai dia tenang kembali baru kita nasehati dia dan mengingatkan akan perbuatan dia yang kurang baik tadi.

4. Alihkan pola tindakan

Salah satu cara yang efektif dalam mentransisikan gelombang otak anak adalah dengan mengalihkan perhatiannya pada hal lain yang menarik. Hal ini akan lebih mudah kita lakukan jika kita sudah memahami tipe belajar seperti apakah anak kita. Gunakan apa yang mereka suka untuk mengalihkan fokusnya dan biarkan gelombang otaknya turun agar dapat diberikan sugesti yang baik dan menasehati dia.

5. Saat semua sudah reda, jangan biarkan anak melupakan kejadian tadi.

Setelah anak reda, kita jangan lupakan perbuatan dia yang tantrum sebelumnya. Kita harus melakukan komunikasi yang serius pada anak dan dilakukan dengan cara eye to eye. Tatap mata anak kita, dan suruh anak kita menatap mata kita juga. Jangan melepaskan eye contact supaya kita yakin dia dalam kondisi yang fokus.Β Hal ini berhubungan dengan fiksasi mata, agar sugesti yang kita berikan saat melakukan komunikasi terekam ke dalam pikirannya.

6. Hug Therapy

Setelag semuanya reda dan kita sudah melakukan pembicaraan kepada anak kita. Berikanlah dia pelukan yang menenangkan buat dia. Tunjukan bahwa kita sayang sama dia dan bicara bahasa kasih ke anak kita. Pelukan merupakan terapi emosi yang baik. Dan kegunaan hug therapy antara lain adalah:

  • Penyaluran energi ketenangan dan kedamaian
  • Mengendurkan urat syaraf yang tegang
  • Meningkatkan kadar hemoglobin
  • Terapi masalah emosi maupun fisik

Yak sekian sudah cerita oleh-oleh dari workshop hypnoparenting kemarin. Semoga menjadi bekal untuk aku dan mas dalam mendidik Aghnan. Satu hal yang membuat harus kita ingat, bahwa

Anak itu titipan Allah

Bukan kepunyaan kita dan bukan hak milik kita. Kita harus menjaga titipan Allah dengan sangaaaaat baik. Aku yakin, pada dasarnya semua baby di dunia ini murni jiwanya. Jika kita mendidiknya dengan baik, insyaAllah anak tersebut akan tumbuh jadi anak yang baik.

Bukan tugas yang mudah dan gampang, namun kita beruntung telah dipercaya oleh Allah untuk menjaga titipannya. It’s not an easy job but I think we must try our best. Amiiin.. πŸ™‚

Sumber: Workshop Hypnoparenting oleh Ibu Evariny Adriana

Workshop Hypnoparenting Part 3: Positive Parenting

..lanjutan dari part 2 Hypnoparenting..

Tadinya kan mau cerita soal temper tantrum di part 3 ini. Namun kayanya lebih baik cerita soal positive parenting (pola pengasuhan positif) yang di share sama mbak Eva ya. Jika kita ingin menerapkan pola pengasuhan positif, kitanya sendiri harus bisa melatih ketenangan dan kesabaran, kemudian kita harus bisa menomorsatukan pola pikiran yang positif dan baik sebelum mengasuh anak.

Beberapa poin penting untuk pola pengasuhan positif pada anak sebagai berikut:

1. Anak adalah manusia kecil.

Perlakukan anak seperti orang dewasa walaupun dia belum besar, namun banyak hal yang sebenarnya ia telah mengerti dan dapat diperlakukan sama seperti orang dewasa.

Contohnya:

  • Selalu berikan ia pilihan agar ia tidak merasa selalu diperintah. Tapi tentunya sebagai orang tua kita bisa mengajarkan dan mengarahkan mana pilihan yang lebih baik dan penting.
  • Biarkan dia mandiri walau beberapa hal tentunya dipermudah. Terutama dalam hal-hal kecil seperti mandi, sikat gigi, ganti sepatu, ganti baju
  • Selalu menjawab pertanyaan anak dengan jawaban yang benar sebisa mungkin. Pokoknya jangan sampai membohongi anak, karena jika suatu saat anak mengetahui kebohongan itu, dapat mengurangi rasa percaya anak kepada orang tua.
  • Hindari jawaban “Tidak Tahu” karena hal ini dapat memicu perasaan malas pada anak untuk bertanya lagi kepada orang tua nya. Mintalah dia menunggu selagi kita mencari jawaban atas pertanyaannya.
  • Jelas konsep sebab akibat. Udah gak jaman lagi ya menurut aku model orang tua yang otoriter yang modelnya pokoknya semua omongan mereka benar dan tidak bisa di debat sama orang tuanya. Hal ini selain membuat anak tidak bisa berpikir dengan logika juga membuat anak merasa tidak bebas dan bisa menjauhi orang tuanya. Ajarkan konsep sebab akibat ini, dan insyaAllah akan membuat anak lebih mudah mengerti dan lebih mudah meminta dia melakukan sesuatu jika sudah mendapatkan pengertian dari dia.
  • Jangan mengulangi nasehat yang sama.
    2. Kenali Anak dengan baik.

    Terutama tipe belajarnya. Tiap manusia mempunyai tipe belajarnya masing-masing. Ada yang Visual, Auditif ataupun Kinestetik. Ketiga faktor ini selalu ada dalam tiap manusia, namun dengan presentase yang berbeda-beda. Bagaimana cara membedakan anak kita anak Visual, Auditif ataupun Kinestetik?

    Ciri Anak Visual:

    Suka baca dan melukis. Kalau sedang mikir selalu lihat keatas. Mudah menangis atau marah, ekspresif sekali. Belajar melalui pengamatan dan peragaan. Mudah untuk belajar membaca karena cepat mengenali huruf. Membuat anak visual cepat belajar membaca bisa dengan menggunakan metode flash card. Soalnya anak visual akan cepat menyerap dengan metode flash card ini.

    Memiliki imajinasi yang kuat dengan melihat detil dari gambar yang ada. Untuk komunikasi cenderung tenang dan tidak banyak bicara panjang dan suka sekali mengamati sesuatu. Respon terhadap seni, mempunyai apresiasi terhadap seni apa saja yang dilihatnya secara mendalam dengan detil dan komponen.

    Aktifitas yang disukai biasanya menggambar.

    Ciri Anak Auditif:

    Anak Auditif mudah belajar melalui instruksi dari orang lain. Kalau sedang mikir lihat kiri kanan. Akan mudah belajar baca menggunakan pendekatan melalui bunyi kata. Jadi jika ada flash card, kita ejakan huruf di flash card itu satu-satu maka akan cepat masuk ke dia. Mudah mengingat jika dilakukan pengulangan berkali-kali. Tidak mengutamakan detil, lebih berpikir mengandalkan pendengaran.

    Suka berteriak jika bahagia, mudah meledak tapi cepat reda, emosi tergambar jelas melalui perubahan besarnya nada suara, dan tinggi rendahnya nada. Senang mendengar dan cenderung repetitif dalam menjelaskan. Dan suka musik.

    Aktifitas yang disukai biasanya bermain musik.

    Ciri Anak Kinestetik:

    Anak Kinestetik akan mudah belajar jika melakukan sesuatu secara langsung. Kalau sedang mikir lihat ke bawah. Metode flash card akan susah diterapkan untuk anak kinestetik. Lebih mudah mengingat apa yang sudah dilakukan, daripada apa yang baru saja dilihat atau dikatakan. Kurang imajinatif, karena lebih mengutamakan tindakan/kegiatan.

    Suka melompat-lompat kalau gembira, memeluk, menepuk, dan gerakan tubuh keseluruhan sebagai luapan emosi. Kalau berkomunikasi suka menggunakan gerakan kalau bicara namun kurang mampu menjadi pendengar yang baik.

    Aktifitas yang disukai biasanya kegiatan yang banyak gerak.

    Nah, pada saat workshop mbak Eva menceritakan, untuk bisa mengasuh anak kita sesuai tipe belajarnya, kita sendiri sebagai orang tua harus mengetahui tipe belajarnya kita dahulu. Kayak aku dan mas ternyata memiliki tipe belajar yang beda banget. Mas itu 50% dominan Visual. Sedang aku 50% dominan Auditif.

    Dari situ aku baru mudeng. Panteees si mas itu kalau aku kasih instruksi melalui omongan suka cepat lupa. Beda banget sama aku kalau di kasih instruksi melalui omongan langsung mudeng banget. Tipe orang Visual cocok kalau dikasih check list. Lebih masuk ke mereka. Nah kalau ternyata Aghnan ikutan Visual kayak bapaknya, gak bisa tuh aku main kasih instruksi melalui percakapan yang panjang. Bisa gak ngerti-ngerti πŸ™‚ Untuung banget sudah belajar ini di awal. Tau karakter anak kita dahulu baru kita bisa mengasuh dia dengan perlakuan yang tepat πŸ™‚

    3. Ucapan orang tua adalah “doa”

    Untuk itu selalu gunakan kata-kata positif dan afirmasi efektif dalam mengasuh anak. Jangalah men cap anak kita dengan label ‘nakal‘,’bandel‘,’susah diatur‘. Jika anak kita mendengar takutnya hal itu akan menjadi sugesti yang berlanjut kepada anak itu. Β Hindari penggunaaan tidak-jangan-bukan.

    4. Hindari timbulnya konflik diri pada anak

    Janganlah menggunakan kalimat-kalimat yang bertentangan sehingga menimbulkan pertanyaan pada anak yang pada akhirnya bisa membuat anak menyangsikan banyak hal. Seperti bisalnya

    Aduuuh.. Bagus banget ya anak Bunda, semuanya diberantakin. Pinter deeh. Terus aja semuanya di acak-acak biar tambah berantakan, baguuus bangeet..

    5. Menjadi Role Model bagi anak kita

    Anak itu adalah mesin foto copy yang sempurna. Untuk itu kita harus menjadi role model serta guru yang baik kepada merka karena anak itu akan mencontoh semua yang dilakukan oleh kita karena mereka menganggap kita sebagai panutan. Untuk itu kita harus memberikan teladan yang baik melalui contoh yang langsung. Kemudian jika ada perbedaan kondisi (misalnya: jam malam orang tua dan anak berbeda) kita harus menjelaskannya dengan konsep sebab-akibat sehingga dapat dimengerti oleh anak kita. Dan kita harus selalu menepati janji kepada anak kita, agar mereka dapat mengerti pentingnya arti sebuah janji πŸ™‚

    6. Hindari High Expectation

    Kita harus belajar menerima anak kita apa adanya, karena kita mencintai dia walaupuan dia memiliki banyak kelemahan, bukan karena dia memiliki banyak kelebihan πŸ™‚ Kita harus menjadi suporter nomor satu untuk anak kita. Belajarlah yang terbaik buat kita bukan berarti yang terbaik untuk anak kita. Coba belajar meletakkan standar yang wajar dan tidak perlu menuntut berlebihan.

    Dan yang pentiing banget coba tolong digaris bawahi dan distabiloin kalau bisa ya: hindari membandingkan anak kita dengan anak lain. Tujuannya sih bagus untuk memotivasi, tapi hasilnya tidak bagus jika caranya seperti itu. Jika ia dapat mengalahkan orang lain akan membuat dirinya sombong. Dan jika ia tidak bisa mengalahkan orang lain akan membuat dia menjadi tidak percaya diri dan merasa lemah.

    Jalan keluar yang terbaik adalah bandingkan dia dengan prestasinya sendiri. Mbak Eva pun menegaskan, apapun hasil yang sudah dibuat anak kita semampu dia, yang harus dilakukan pertama oleh kita adalah puji lah dia dengan tulus. Baru semangati dia agar dia bisa lebih baik dibanding prestasi yang sekarang. πŸ™‚

    7. Jadilah Orang Tua yang Konsisten

    Aturan-aturan yang kita terapkan dalam kehidupan mereka kan bertujuan untuk mendisiplinkan mereka. Buatlah metode punishment consequences and reward buat mereka agar menaati aturan yang sudah kita terapkan. Kreatif lah dalam menerapkan metode ini πŸ™‚

    8. Boleh Marah dengan syarat:

  • Alasan marah sudah tepat dan bukan karena pelampiasan emosi kita. Anak kita bukan tong sampah emosi kita ya..
  • Marah dengan porsi yang sesuai. Misalnya, jangan marah meledak-ledak untuk hal yang sepele.
  • Hindari hukuman fisik. Hukuman fisik hanya akan membuat anak takut dan tidak menghormati kita sebagai orang tua.
  • Marahi perbuatannya, bukan anaknya. Tunjukan bahwa kita tidak menyukai perbuatannya yang tidak baik.
  • Hindari memarahi anak disaat anak sedang temper tantrum. Hal ini tidak akan menyelesaikan masalah namun akan memperparah masalah.

Workshop Hypnoparenting Part 2: Menanamkan Sugesti Positif

..lanjutan dari part 1 Hypnoparenting..

Bagaimana cara menanamkan sugesti positif ke anak kita? Salah satu cara yang efektif, terutama untuk anak dibawah 6 tahun, terlebih lagi untuk anak dibawah 3 tahun adalah melalui Pillow Talk. Pillow Talk ini adalah acara memberikan sugesti positif saat anak sudah tertidur sehingga gelombang otaknya sudah turun ke theta, dan sebelum drop hingga ke delta.

Oh iya, cerita dulu tentang gelombang otak manusia. Gelombang otak manusia terdiri dari 4 kategori. Gelombang otak Beta, Alpha, Theta dan Delta. Gelombang otak Beta ini terjadi jika kita/anak sedang dalam kondisi stres berat. Kalau anak biasa terjadi jika anak sedang tantrum. Jika dalam kondisi otak Beta ini, anak sama sekali tidak dapat diberikan sugesti dan akan menolak. Menghadapai anak temper tantrum diajarkan juga oleh mbak Eva, namun aku coba jelasin di part 3 ya biar jelas.

Kemudian balik ke gelombang otak. Setelah Beta, ada gelombang otak Alpha. Gelombang otak Alpha ini terjadi pada kondisi fokus, anak rileks dan tenang. Ini terjadi kalau anak sedang fokus akan sesuatu misalnya sedang fokus pada mainannya. Kemudian gelombang otak Theta terjadi pada kondisi anak sudah tertidur (kondisi badan sudah tertidur) namun otak masih aktif, bermimpi. Kalau anak mengigao berarti gelombang otaknya masuk ke Theta. Sedang gelombang otak yang terakhir adalah gelombang otak Delta yang terjadi pada kondisi anak sudah tertidur pulas dan otak sudah beristirahat.

Penanaman sugesti positif ke anak kita melalui pillow talk efektif digunakan pada saat gelombang anak pada kondisi Alpha dan Theta. Yang paling bagus dilakukan adalah dalam kondisi Theta.

Bagaimana pillow talk itu dilakukan? Pillow talk itu dilakukan pada saat menjelang tidur anak. Sebelum pillow talk, orang tua harus memastikan bahwa mereka dalam kondisi tenang dan rileks. Pada saat pillow talk, orang tua menanamkan sugesti atau afirmasi positif kepada anak. Bicara kepada anak sambil menyentuh bagian tubuh anak kita dengan penuh kasih sayang. Dan kita bicara ke anak dengan nada bicara yang lembut dan tidak memerintah. Hal ini dilakukan pada 1- 15 menit pertama anak tidur. Pada rentang waktu tersebut, gelombang otak anak masih dalam kondisi theta.

Namun menanamkan sugesti yang efektif dan benar ada syaratnya. Antara lain adalah:

  1. Hindari penggunaan kata-kata negatif (selalu menggunakan kata-kata positif sebanyak-banyaknya dan diulangi)
  2. Hindari afirmasi non efektif yang menggunakan kata perlawanan seperti ‘tidak’, ‘jangan’, ‘bukan’. Mengapa begitu, soalnya kebiasaan manusia kan semakin dilarang akan semakin penasaran kan. Misalnya gini, kalau aku bilang “Jangan bayangkan Bunderan HI”, otomatis kita langsung membayangkan bunderan HI kan? Hehehe begitulah sistem kerja di otak kita. Begitu pula dengan otak anak kita.
  3. Hindari afirmasi yang dianggap proses dan tidak pasti seperti kata ‘akan’, ‘mungkin’. Kata-kata tersebut akan terekam sebagai suatu proses yang berlangsung bukan sebagai proses yang harus dilaksanakan.
  4. Hindari kata ‘harus’, agar tidak memaksakan kehendak, tidak membuat stres anak dan terlebih lagi tidak mendahului keinginan Tuhan.

Mbak Eva pun menjelaskan bahwa sebaiknya sugesti dijelaskan sebab-akibatnya agar anak mengerti dengan jelas. Contohnya begini. Jika aku ingin menanamkan sugesti agar Aghnan mau makan yang pintar, kalimat sugesti yang harus dihindari adalah:

Mas Aghnan makannya jangan sedikit dong

atau

Nanti Mas Aghnan makan yang pintar ya

Nah bagaimana penyusunan kata-kata sugesti yang baik. Mbak Eva mencontohkan seperti ini.

Besok Mas Aghnan makannya yang pintar ya. Makan yang banyak yaa. Soalnya makanan itu kan banyak gizinya. Bagus buat perkembangan mas Aghnan agar mas Aghnan tambah besar dan tinggi

Mbak Eva bilang pada saat ingin pillow talk, kita harus ketahui penyebab masalahnya karena yang harus diobati adalah sumbernya bukan gejalanya. πŸ™‚ Baiknya penanaman sugesti ini dilakukan 5 hari berturut-turut untuk sugesti yang sama. Dan, tidak boleh rapelan untuk menyelesaikan berbagai masalah dalam menanamkan sugesti. Jadi harus satu permasalahan one-by-one.

Penanaman sugesti ini baiknya dilakukan pada suasana yang cenderung tenang, nyaman dan monoton(bosan). Antara lain adalah:

  • pagi hari sebelum beraktivitas
  • malam hari menjelang tidur
  • saat anak rileks, fokus cenderung lelah
  • saat menyusui (untuk bayi)
  • saat turun hujan (suara yang monoton)
  • saat bermain dan bercerita
  • saat tertidur

Kalau baca diatas, kayaknya gampang yah. Padahal pada prakteknya, memilih kata-kata sugesti yang positif itu (agak) susah. Hal ini ya disebabkan karena karena kita belum terbiasa saja. Karena itu pada saat workshop kita dikasih lembar latihan untuk mengubah kata-kata negatif menjadi kata-kata positif πŸ™‚

Pillow talk ini sebetulnya sudah aku praktekan semenjak baca thread hypnoparenting yang ada di TUM. Dan somehow it works. Waktu itu aku pillow tallk Aghnan agar mau anteng di car seat. Alhamdulillah, sampai sekarang Aghnan anteng duduk di car seat. Kemudian menjelang MPASI ini aku sudah pillow talk ke Aghnan selama seminggu agar Aghnan pintar dan mau makan yang banyak. Alhamdulillah juga, Aghnan sampai sekarang nampak enjoy makannya. Selalu tandas πŸ™‚

Harapannya sih semenjak belajar langsung sama mbak Eva. Aku bisa lebih canggih lagi menerapkan pillow talk ini ke Aghnan. Apalagi Aghnan masih 6 bulan. Masih banyak kesempatannya πŸ™‚

Udah selesai cerita hypnoparenting nya? Blom sih. Masih ada cerita tentang Positive Parenting. Tapi, lanjut lagi besok ya.. πŸ™‚

..bersambung ke part 3 hypnoparenting..

Sumber: Workshop Hypnoparenting oleh Ibu Evariny Adriana

Workshop Hypnoparenting Part 1 : Awal Mulanya

Semenjak jadi ibu beneran, aku sama mas mulai deh getol baca-baca hal tentang parenting deh. Jelas lah, jadi orang tua itu kan gak ada sekolahnya. Dan kita gak otomatis langsung jadi orang tua yang hebat dan benar selalu kan? Ada proses pembelajarannya, yang mana aku sama mas coba ulik pelan-pelan.

Pas banget tiba-tiba baca thread tentang Hypnoparenting di TUM. Dari baca-baca dan mencoba mempraktekan apa yang aku baca dari thread itu ke Aghnan, kok somehow berhasil ya. Semenjak itu, aku mulai deh cari tau lebih banyak lagi tentang praktek hypnoparenting yang baik dan benar. Dan berniat banget kalau ada kelas tentang hypnoparenting ini, aku dan mas harus ikut!

Untung banget aku follow twitternya keluarga hypno, dan pas baca kalau ada bukaan untuk workshop hypnoparenting pada tanggal 10 Oktober ini. Gak pakai mikir dua kali, aku langsung email mbak Eva, dan daftar buat aku dan mas. Harga workshopnya 350rb/orang. Emang sih mahal, tapi buat aku dan mas ini investasi yang bagus agar aku dan mas bisa jadi orang tua yang lebih baik lagi.

Workshopnya agak lama sih, dari jam 10 pagi sampai jam 5 sore. Dan syaratnya, anak tidak boleh dibawa. Kangennya parah banget sih, mana weekend lagi kan. Harusnya waktu spend quality time sama Aghnan, waktunya malah berkurang karena workshop ini. Tapi sekali lagi aku mikirnya, ini investasi yang bagus, dan alhamdulillah, Aghnan bisa dititipin sama mbak nya atau mama aku.

Lokasi workshopnya di sebuah cafe di tebet namanya Lemon’s Kitchen. Tempatnya gak terlalu besar dan di book semuanya untuk workshop ini. Yang ikut workshop ini rata-rata ibu-ibu. Suami yang ikut cuman dua orang saja dan salah satunya ya si mas ini. Beruntung dapat semeja dengan ibu ibu muda nan funky Nana dan Artha, dan pas banget anak-anak kita masih berumur dibawah 1 tahun jadi obrolannya masih nyambuung. Masih ‘seangkatan’ soalnya. πŸ˜‰

Pembicara workshopnya sendiri itu ibu Evariny langsung, pengarang buku Hypnobirthing yang best seller itu. Orangnya baik, bawain workshopnya enak dan sangat excited menjawab pertanyaan-pertanyaan dari peserta workshop.

Acara dimulai dengan menjelaskan apa sih hypnoparenting itu sendiri. Hypnoparenting itu apa sih sebetulnya? Hypnoparenting itu adalah upaya alami menanamkan program positif ke pikiran bawah sadar anak, agar dia terbentuk menjadi anak yang positif dengan pola perilaku yang baik.

Nah manfaat hypnoparenting ini antara lain adalah:

  • Mengarahkan anak untuk lebih tenang dan positif
  • Mendapatkan Emotional dan Spiritual Quotient yang maksimal dari anak
  • Mengatasi tantrum
  • Mengatasi kebiasaan-kebiasaan buruk anak seperti sulit makan, mengompol, mengemut jempol
  • Melakukan programming dengan cara yang tepat dan positif bagi anak
  • Kondisi rileks, tenang, positif dan damai dalam menjalani peran sebagai orang tua
  • Mencegah pola perilaku negatif yang akhirnya bisa terbawa hingga ia dewasa
  • Meningkatkan daya tahan tubuh anak
  • Melakukan komunikasi positif sehingga langsung terekam ke bawah sadar anak.

Diawal dijelaskan sebelum “membentuk” anak yang positif, orang tua harus berada pada kondisi yang tenang dan positif dulu. Pada dasarnya kan anak itu lahir dengan jiwa yang sangaaat murni. Kalau kata mbak Eva, laksana selembar kertas putih yang sangat putih, itulah jiwa anak-anak kita pada awalnya. Tugas orang tua lah yang membentuk lukisan di jiwa anak-anak kita. Jadi bagaimana anak kita terbentuk nanti, sangat bergantung bagaimana cara kita mendidiknya.

Huhu jadi inget episode desperate housewives kemarin, yang menggambarkan seorang anak yang baik menjadi seorang pembunuh berdarah dingin karena didikan ibunya yang selalu merendahkan dia. Heuuu.. Emang sih itu cuman serial tv. Tapi kan biasanya based on berita-berita yang terjadi betulan. T_T

Dasar utama hypnoparenting itu sendiri adalah 3 aspek dari kehidupan manusia. Yaitu body-mind-spirit. Spiritual yang baik akan menghasilkan pikiran yang positif dan tenang, sehingga berpengaruh pada kesehatan tubuh.

Dijelaskan bahwa pikiran manusia itu bagaikan gunung es, 12% Alam sadar sedang 88% adalah alam bawah sadar. Alam bawah sadar kita inilah dimana kebiasaan, nilai nilai, agama tertanam lekat diingatan kita, dan membentuk kita sampai kita dewasa. Jadi informasi yang masuk ke dalam alam bawah sadar anak itu sangat penting untuk membentuk kepribadian mereka kedepannya. Alam sadar itu baru dimiliki oleh anak semenjak berusia 3 tahun. Namun, alam bawah sadarnya masih dapat diakses dengan mudah sampai anak berumur 6 tahun.

Jadi walau anak kita seolah-olah masih kecil atau bayi, jangan salah. Semua informasi yang mereka terima terekam lekat-lekat diingatan mereka. Penting bagi kita, sebagai orang tua memperhatikan hal ini agar kita bisa memfilter informasi yang jelek agar tidak masuk ke dalam ingatan mereka dan menanamkan sugesti positif yang membangun ke dalam diri mereka. Mangkanya aku suka kesal kalau ada orang yang bilang ‘anak nakal’ didepan anak itu sendiri. Itu melabeli anak itu, dan takutnya langsung tertanam di benak anak kalau dia betulan anak nakal. Huhu ga baik dong kalau begitu..

..bersambung ke part 2 Hypnoparenting..

Sumber: Workshop Hypnoparenting oleh Ibu Evariny Andriana